| Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi kriteria penilaian “blog competition”yang diselenggarakan oleh Depkominfo BEM STAN.
Isi di luar tanggung jawab WordPress selaku penyedia layanan |
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara a.k.a STAN. Apa yang pertama kali terbayang di benak Anda ketika mendengar (atau membaca) nama tersebut? Sekolah tinggi calon-calon birokrat? Sekolah tinggi yang penuh keglamoran Departemen Keuangan? Tempat para pemuda-pemuda jenius calon penerus bangsa menimba ilmu? Atau mungkin Anda belum pernah mendengar nama tersebut? Well, apa pun yang terbayang di benak Anda, sebaiknya jangan berharap terlalu banyak.
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), adalah lembaga pendidikan tinggi negeri Indonesia di bawah Departemen Keuangan. Lulusan STAN dipersiapkan untuk dapat mengelola keuangan Negara di berbagai instansi, antara lain Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Badan Pengawas Pasar Modal, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea Cukai, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, serta Direktorat PBB. (sumber: id.wikipedia.com)
Dari potongan artikel di atas, tampaknya sangat menyenangkan berkuliah di STAN. Lihat saja betapa banyak instansi yang membutuhkan lulusan Kampus Ali Wardhana tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri, hal ini adalah salah satu “magnet” bagi siswa-siswi SMA yang ingin meneruskan kuliah (dan tentunya orang tua mereka). Eits, jangan terlalu cepat senang.
STAN merupakan sekolah kedinasan yang menyelenggarakan program pendidikan tingkat diploma (D-I, D-III, dan D-IV). Mahasiswa STAN dibebaskan dari biaya pendidikan, mendapatkan buku literatur gratis, serta ditempatkan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. STAN menerapkan sistem drop out bila mahasiswanya tidak mencapai Indeks Prestasi tertentu. (sumber:idem)
Hmm.. tetap terlihat menyenangkan. Namun yang ingin saya tekankan dari kutipan di atas adalah pada kalimat terakhir. Dua huruf yang sebenarnya biasa saja, namun jika dikombinasikan dengan tepat akan membuat bulu kuduk mahasiswa STAN–terutama tingkat satu–berdiri. Mungkin bahkan dapat membuat calon mahasiswa (pede banget ya..) berpikir beberapa kali sebelum mendaftar. Coba bayangkan, sudah harus melewati tes yang membuang banyak waktu, tenaga, dan tentunya biaya, semuanya harus pupus justru setelah menjadi mahasiswa, hanya karena memakai kemeja hijau (sebenarnya penulis belum dapat membuktikan kebenaran mitos ini).
Sebenarnya masalah DO ini mungkin hanya merupakan suatu bentuk opini yang terkondisikan di dalam pikiran segenap mahasiswa tingkat satu. Para senior yang kredibilitasnya cukup terbukti sebenarnya telah memberi sedikit penenang jiwa kepada kami
Yang di-DO tu cuma anak-anak yang keterlaluan aja!
Begitulah mereka berpendapat. Lanjut ke kutipan berikut
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) termasuk dalam jenis Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) sipil. STAN menganut sistem demokrasi yang menerapkan sistem learning by action di mana setiap mahasiswanya diberikan kebebasan berpendapat.
Yang agak menimbulkan sebuah tanda tanya di hati saya adalah tulisan pada kalimat kedua. Bagaimana kita bisa bebas berpendapat jika ada ancaman “dua huruf mengerikan” yang telah saya singgung di atas?
Terlepas dari segala kekhawatiran pribadi yang telah saya sebutkan di atas, STAN tampaknya memang membuka jalan bagi mahasiswanya untuk mengawali sebuah perjalan panjang di ladang tandus kehidupan. Bisa kita lihat dari banyaknya organisasi di kampusku tercinta (agak lebay…) itu.
Sebut saja BEM yang telah memancing saya untuk lebih aktif ngeblog dengan mengadakan “blog competition”. Atau animaku yang tentunya sangat memuaskan para penggemar anime dengan bagi-bagi koleksinya dan acara-acara kurang penting tapi menyenangkan lainnya. Atau Media Center yang membuat kehidupan kampus yang membosankan menjadi lebih berwarna dengan edisi terbaru “Oven News”nya. Atau organisasi-organisasi “bawah tanah” lain yang cukup mengejutkan ternyata ada di STAN, seperti sejenis perkumpulan mistik dan sebagainya. Dan tentunya juga membuka usaha bagi saya dan teman-teman dalam hal perdagangan, khususnya buku panduan USM STAN (thanks for IMMSI).
Kalaupun Anda tidak mengikuti organisasi atau UKM apa pun, Anda tetap bisa belajar tentang kehidupan. Betapa kerasnya kehidupan yang akan kita arungi nanti, sedikit banyak Anda bisa mendapatkan bayangan tentang hal ini. Atau kalau pun Anda memang tipe manusia kurang sensitif yang tidak dapat “merasakan” bahwa hidup kita dipenuhi partikel-partikel belajar, Anda masih bisa mempelajari bagaimana memelihara kambing
Tidak bisa dipungkiri, segalanya, yang bisa berupa hal-hal baik atau pun hal-hal buruk, mungkin saja berawal dari STAN. Kampus ini, tempat di mana saya sekarang menuntut ilmu (kalo nggak ketiduran di kelas
), kampus tempatku mengasah soft skill-ku, kampus tempat kambing-kambing itu berkeliaran. Tempat yang tampaknya akan meninggalkan secercah kenangan di hatiku… (makin lebay aja ya mas)







tulisanmu lumayan.
mendingan juga.
moga menang
Oleh: ndo on Desember 29, 2008
at 4:51 am
[...] 3″, saya membaca dua buah judul tulisan yang tidak lain adalah tulisan saya(klik di sini dan di sini), namun dengan nama pemenang yang hampir bisa saya pastikan bukan nama [...]
Oleh: wah, saya juara 3 blog competition « Saya’s Blog on April 15, 2009
at 4:04 am
lho koe pinter to….
Oleh: ares on April 15, 2009
at 5:46 am