Oleh: bloksaya | Juli 4, 2009

kisah (nyata) tentang hidayah

Anda tentu pernah mendengar nama Salman al-Farisi, bukan? Beliau adalah salah seorang sahabat Rosululloh yang terkenal dengan ide brilian beliau untuk membuat parit sebagai perlindungan dalam perang Khondaq (khondaq=parit). Ternyata, perjalanan beliau dalam mencari agama yang haq tidaklah mudah. Berikut kisah perjalanan beliau.

Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama “Ji”. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: “Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!” Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. “Dari Syria”, ujar mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya, “Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita”. Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku ….

Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai. Lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar, Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ….dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu dari padanya.

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya, “Sebagai Anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Alloh atas diri Anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi. “Anakku!”, ujamya, “Tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul”.

Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Alloh.

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan ku ceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Alloh pula.

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di ‘Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.

Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya, “Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, la mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya.”

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?” “Baiklah”, ujar mereka.

Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Alloh baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.

Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani ‘Amar bin ‘Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya:

“Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi Demi Alloh, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: “Apa kata anda?” Ada berita apakah?” Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: “Apa urusanmu dengan ini, ayoh kembali ke pekerjaanmu!” Maka aku pun kembalilah bekerja …

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: “Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedeqah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini”. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.

“Makanlah dengan nama Allah”. sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. “Nah, demi Alloh!” kataku dalam hati, inilah satu dari tanda-tandanya … bahwa ia tah mau memakan harta sedeqah':

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: “Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah”, lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shohabatnya: ‘Makanlah dengan menyebut nama Alloh ! ‘ Dan beliau pun turut makan bersama mereka. “Demi Alloh': kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah ‘:

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan kutemui beliau di Baqi’, sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap henabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu.

Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rosululloh. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rosululloh menitahkan padaku:’Mintalah pada majihanmu agar ia bersedia membebashanmu dengan menerima uang tebusan.”

Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rosululloh, sementara Rosululloh menyuruh para shohabat untuk membantuku dalam soal keuangan.

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Alloh, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rosululloh dalam perang Khondaq dan peperangan lainnya.

Pelajaran yang (seharusnya) dapat kita ambil

Dalam kisah perjalanan Salman al-Farisi ini, ada sebuah pelajaran penting yang harus kita pahami. Pelajaran tersebut adalah sebagai seorang manusia yang mengharapkan hidayah dari Alloh, tidak seepantasnya kita hanya bertopang dagu saja. Berdiam di kamar sambil berdoa memohon hidayah tanpa adanya usaha. Ini adalah suatu perbuatan yang benar-benar tidak pantas.

Lalu, usaha apa yang seharusnya kita lakukan agar mendapat hidayah dari Alloh? Berusahalah menuntut ilmu, wahai Saudaraku. Lihat bagaimana perjuangan Salman, berpindah dari seorang alim yang satu ke orang alim yang lain. Ketika dia melihat orang-orang yang beribadah dengan suatu bentuk peribadatan yang lebih baik dari peribadatan orang majusi (orang majusi beribadah dengan menyembah api), beliau tidak lantas sekadar berdoa mudah-mudahan dapat beribadah seperti orang-orang nashroni tersebut.Beliau bahkan langsung bertanya dari mana asal agama tersebut dan bertekad untuk pergi bersama mereka, meninggalkan segala kemewahan hidup sebagai bangsawan.

Maka, adalah hal yang lucu jika kita lihat pada zaman sekarang ini, ketika seseorang berusaha menasihati manusia dengan kebaikan, mereka justeru menolak dengan alasan-alasan yang tidak rasional. Biasanya, di akhir bantahan mereka, mereka akan menimpali dengan kalimat “Hidayah kan dari Alloh. Ngapain sih lu sok ngasih tau gitu!” atau kalimat-kalimat semisalnya. Memang benar bahwa hidayah itu hanya dari Alloh (hidayah yang dimaksud dalam konteks ini adalah hidayah taufiq, yaitu hidayah yang membuat orang beriman atau kafir, taat atau ingkar, dsb. Hidayah jenis ini hanya datang dari Alloh, bahkan Rosululloh pun tidak mampu membuat Abu Tholib beriman di akhir hidupnya. Hidayah jenis lain, bisa saja datang dari makhluq. Berbagai petunjuk tata cara beribadah yang Rosululloh ajarkan merupakan hidayah (hidayah=petunjuk). Hidayah jenis kedua ini sering disebut hidayatulbayan), tapi bukan berati kita hanya perlu pasrah saja menanti hidayah. Ingatlah sebuah hadits yang cukup panjang ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada Rosululloh mengenai pasrahnya seseorang akan takdir karena tiap orang telah ditentukan tempatnya di surga atau neraka:

…Rosululloh shollallohu ‘alaihissalam bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.”[Shohih Muslim, Kitab Taqdir, bab 1000, hadits no 4786, hadits marfu' dan mutawatir]

Semoga Alloh memudahkan jalan kita untuk mendapat hidayah dari-Nya.

Wallohu a’lam bishshowab.


Responses

  1. hahaha… bro, sori bro, gue asal2 kopi kmaren…

  2. hai hakikibaikhati ….
    apha bner kmu baek htie ?????
    nma aslie cv tuh ????
    jhahahahhahahaha
    bleh mnta almadt fb kmuh ???

  3. qwuh cri crita tntang anak mnyksa ibu dan ayah’x donx….
    dah crie dmna” ttep ujj gg ad …
    dmna sih ….
    cv yg bsa bntu ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
    tlonk donk …
    plist tgas nihh ..
    tuk ckulah …..
    tgas’a ssah amedt sih …………………………………………………………………………………………………………………………………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: