Oleh: bloksaya | Oktober 5, 2009

Awas Wahhabi!

Mungkin kita sering mendengar peringatan dari orang-orang di sekitar kita tentang Wahhabi. Biasanya, Wahhabi diidentikkan dengan orang-orang berjenggot, berjubah, atau bercadar. “Kewaspadaan” terhadap orang-orang berciri demikian pun kian bertambah seiring banyaknya aksi bom bunuh diri yang beberapa pelakunya (kebetulan) berpenampilan demikian. Hal ini tentunya tidak lepas dari propaganda media yang secara tidak cerdas menempatkan mereka (orang-orang yang berjenggot, berjubah, atau bercadar) sebagai orang-orang yang “layak” dicurigai (Padahal, berjenggot, berjubah, atau bercadar memang berasal dari Islam sehingga tidak pantas bagi kita selaku muslim mencurigai identitas keislaman tersebut). Meskipun (setahu saya) media memang tidak pernah menyebut kata wahhabi secara lugas, sedikit banyak mereka, baik sengaja maupun tidak (sebaiknya kita berbaik sangka dan menganggap mereka tidak sengaja) menempatkan orang-orang yang berciri demikian sebagai orang-orang yang patut “dipertanyakan” dalam benak umumnya manusia (kita semua tahu bahwa masyarakat kita masih sempit cara berpikirnya dan mudah terprovokasi).

Bagaimana pun, kesalahkaprahan media tersebut tidak sepenuhnya salah mereka. Pernah ada sebuah wawancara di suatu stasiun televisi swasta dengan narasumber mantan kepala BIN (Badan Intelijen Negara). Dalam wawancara eksklusif tersebut, dengan lugu sang narasumber menyatakan bahwa para pelaku bom bunuh diri tersebut merupakan penganut paham wahabi ekstrem (garis keras) yang sebenarnya telah ada sejak zaman Kholifah Utsman rodhiyallohu’anhu. (tampaknya yang beliau maksud adalah khowarij atau kelompok-kelompok takfiri (yang suka mengafirkan) lainnya). Hal ini menunjukkan bahwa ternyata badan yang kita beri kepercayaan melindungi negara ini tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, orang yang dinisbatkan dengan wahhabi, lahir lebih dari seribu tahun setelah zaman kekholifahan Utsman. Fakta bahwa mereka tidak paham dengan siapa mereka berhadapan tampaknya telah cukup menjadi alasan bagi kita selaku warga negara Indonesia untuk merasa khawatir (namun, selaku orang beriman, kepada Alloh sajalah kita bertawakkal). Hal ini juga sedikit banyak memberi gambaran penyebab Noordin M.Top baru berhasil ditangkap (atau tepatnya dibunuh) setelah sembilan tahun menjadi buron (artinya sejak saya berusia sepuluh tahun, wow!!!). Tampaknya selama ini mereka mencari buaya di liang ular.

Ada juga pendapat aneh sebagian manusia yang pernah saya dengar. Mereka mengatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah seorang wahhabi. Bagaimana tidak aneh, Ibnu Taimiyyah lahir tahun 661 H dan wafat tahun 728 H, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab lahir beratus tahun setelah syaikhul Islam wafat. Bagaimana bisa Ibnu Taimiyyah menjadi seorang wahhabi? Ini menunjukkan ketidakpahaman sebagian besar manusia, ditambah bumbu-bumbu syubhat yang menghasilkan hidangan kejahilan yang hanya akan memabukkan penyantapnya.

Lantas, apa dan siapa sebenarnya wahhabi itu? Sebagian manusia mengenal wahhabi sebagai para pelanggar tradisi. Mereka berkata

Orang-orang wahhabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karomah-karomahnya, tidak mencintai Rosul

dan berbagai tuduhan dusta lainnya.

Padahal, ucapan ini mereka lontarkan lantaran kelompok yang mereka sebut wahhabi tersebut (meskipun sesungguhnya tidak ada sebutan “kelompok wahhabi” tersebut. Insyaalloh akan datang penjelasannya) melarang mereka untuk memohon kepada selain Alloh. Justru karena kecintaan mereka (orang-orang yang disebut sebagai wahhabi) kepada para wali dan para Rosul yang menyebabkan mereka dengan arif menempatkan wali dan para nabi di tempat mereka yang seharusnya, tidak merendahkan mereka dan tidak meninggikan mereka di tempat yang tidak seharusnya. Jika Anda memahami hal ini dengan penuh penghayatan, Anda akan melihat dengan mata hati Anda golongan mana yang lebih menetapi kebenaran.

Pengertian Wahhabi

Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahhabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Alloh), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahhab. Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi, nisbat kepada namanya yaitu Muhammad (karena orang yang dinisbatkan bernama Muhammad bin Abdul Wahhab sehingga orang-orang yang mengikutinya seharusnya disebut Muhammadi, bukan Wahhabi. Tampaknya para pengekor hawa nafsu khawatir jika nisbatnya adalah Muhammad, manusia justru akan menjadi pengikutnya. Padahal tujuan mereka tidak lain agar manusia menjauhi siapa pun yang mengajak untuk mentauhidkan Alloh). Betapa pun begitu, ternyata Alloh menghendaki nama wahhabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Alloh yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa).

Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (artinya kain wol. orang-orang shufi kebanyakan adalah orang yang begitu ghuluw (berlebihan) dalam zuhud kepada dunia. Mereka menganggap bahwa dengan hanya berpakaian dengan kain wol, kain yang paling jelek, mereka telah zuhud kepada dunia. Bahkan, mereka tidak mengambil dari dunia ini kecuali kebutuhan yang sifatnya darurat. Tentu ini adalah ghuluw. Tengoklah Rosululloh, manusia yang paling zuhud. Apakah beliau berbuat demikian?) maka sesungguhnya wahhabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Alloh yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.

Siapakah Muhammad Bin Abdul Wahhab?

Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.”

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rosululloh, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Alloh semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighotsah) kepada Rosululloh, serta berdo’a (memohon) kepada selain Alloh, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rosululloh.

Al-Qur’an menegaskan yang artinya :

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madhorat kepadamu selain Alloh, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zholim. [Yunus : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik (inilah yang Rosululloh jelaskan kepada para shohabat mengenai pengertian zholim. Lihat pula Q.S Luqman:13).

Suatu kali, Rosululloh berkata kepada anak pamannya, Abdulloh bin Abbas

Jika engkau memohon, mohonlah kepada Alloh, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Alloh. [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shohih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo’a (memohon) kepada Alloh semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selain-Nya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta) kepada orang-orang sholih adalah dengan mengikuti amal sholihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Alloh, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Alloh.

Sekali lagi, cobalah renungi sekilas profil Muhammad bin Abdul Wahhab di atas. Apakah tampak padanya kebencian kepada para Rosul dan Wali Alloh seperti yang dituduhkan oleh sebagian manusia? Atau beliau justru mengajak manusia mencintai Rosul dan orang-orang sholih dengan cinta yang hakiki? Renungkan dan Anda akan melihat kebenaran, insyaalloh.

Penutup

Sesungguhnya, seperti telah disinggung di atas, “gelar” wahabi tersebut dibuat oleh para musuh tauhid karena kebencian dan kedengkian mereka kepada pengusung panji tauhid ini. Jadi, istilah wahabi itu sendiri sebenarnya isitilah yang salah kaprah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kenyataannya tidak pernah membuat madzhab tersendiri karena beliau mengikuti madzhab ayahnya, Hambali. Meskipun demikian, beliau tidak diragukan lagi adalah seoarang ulama pengikut salaf (yang terdahulu; maksudnya Rosululloh, para shohabat, tabiin, tabiuttabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat) yang berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah Shohihah, bukan seorang yang taqlid.

Maka, cara paling bijak adalah dengan tidak mengklaim diri dengan sebutan apa pun, kecuali jika memang hal tersebut menjadi penunjuk yang bisa membedakan kita dari ahli bid’ah dan musuh tauhid.

Contohnya begini:
Suatu hari, Anda ditanya oleh seorang manusia, sebut saja Fulan.
Fulan: Engkau orang apa?
Maka jawablah: Saya seorang muslim
Jika dia tidak bertanya lebih jauh, jawaban ini cukup, tidak perlu diperdalam lagi. Namun, jika dia bertanya lagi,
Fulan: Apakah engkau seorang salafi?
Maka jawablah, “ya”, jika memang yang dimaksud salafi adalah mereka yang mengikuti manhajnya para salafushsholih.

Akhirnya, setelah jelas bagi kita mengenai hakikat Wahhabi, mari kita tengok ucapan seorang penyair

Jika pengikut Ahmad (Muhammad, pen) adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Semoga Alloh memberikan taufiq-Nya kepada kita

Wallohu a’lam bishshowab


Responses

  1. he, tambah gemuk?

  2. tapi orang wahabi nggak terima kitab imam ghazali kenapa? yaa..

  3. smw prkataan mnusia bsndterima bs dtolak,kcuali ucapan rosululloh hrs dterima.
    prktaan mnusia dtrima apbila ssuai dgn quran&sunnah shohihah.
    imam ghozali jg mnusia,prnh slh.tp bliau kmudian taubat,smg Alloh mngampuni bliau.
    slh 1 ktb bliau yg bliau sndri mlarang qt mmbacana adlh ihya ulumuddin.

  4. Oh gitu ya mas.. apa pun mazhab org, kita hrs saling menghormati,saya org nu loh.. mas.terimaksih.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: