Oleh: bloksaya | Desember 14, 2008

Fenomena Kesyirikan di Malam Tasyriq

Banyak dari golongan manusia yang akhir-akhir ini semakin aneh saja. Setidaknya itu yang saya rasakan selama lebih kurang satu bulan menjadi penduduk Pondok Aren. Kejadian itu terjadi pada hari Senin, 8 Desember 2008 (11 Dzulhijjah 1429 H)*, ba’da Isya’. Karena suatu keperluan, saya dan teman saya, Denny, pergi ke Masjid Baitul Maal, masjid utama dan satu-satunya di kampus kami. Baru beberapa meter kami keluar dari pintu gerbang kos, ada sebuah pemandangan yang menarik.

Di depan kos kami, atau sebelah Timur (agak sulit mendefinisikan depan-belakang atau kanan-kiri suatu masjid) Masjid Asysyuhada, adalah sebuah rumah bergaya minimalis yang saya tahu pasti belum lama berdiri, itu karena kebetulan saat saya mendaftar ulang, rumah itu memang sedang dibangun. Malam itu, tampak sekumpulan manusia memadati teras rumah mungil itu. Apa yang saya lihat mulanya tampak “biasa”, sekumpulan manusia-manusia yang sedang berbuat bid’ah tidak jelas. Mungkin yasinan, pikir saya waktu itu.

Namun ternyata itu bukan yasinan atau tahlilan yang biasa dilakukan di lingkungan kosan saya. Mulanya, saya tidak terlalu memperhatikan hal itu. Yang pertama saya rasakan adalah aroma tidak enak yang memaksa saya terbatuk-batuk. Saat saya menoleh, pemandangan yang terlihat sungguh mencengangkan. Sekumpulan manusia itu, yang terdiri atas para orang paruh baya sampai tua, sedang membaca merapal kata-kata yang tampaknya merupakan bahasa Arab kacau, tanpa makhroj atau tajwid yang jelas, yang terkadang lebih menyerupai gumaman, sambil mengelilingi sesuatu yang tampak seperti tungku. Mengepul dari tungku itu, sebentuk asap tipis. Dari sanalah tercium aroma aneh tadi.

Saat itu, saya tidak punya ide akan apa yang mereka lakukan atau apa sebenarnya yang mengeluarkan asap itu. Kemudian, Denny mengatakan bahwa benda yang berasap itu tidak lain adalah kemenyan. Mulanya, saya belum terlalu yakin. Bukannya saya meragukan teman saya itu, hanya saja terlalu ekstrim tampaknya jika manusia-manusia itu benar-benar membakar kemenyan sambil membaca merapal sesuatu yang tampaknya mereka anggap sebuah dzikir atau shalawat tersebut. Memang mereka selalu berdzikir berjamaah ba’da shalat, berdzikir dengan biji tasbih dengan ukuran tak lazim, tidak pernah bisa merapatkan dan meluruskan shaf, atau memarahi saya habis-habisan lantaran saya berjalan mendekati sutrah. Hanya saja, kemenyan selalu identik dengan praktik kesyirikan. Mungkinkah mereka sebodoh itu?

Namun esoknya, dua teman saya yang lain, Adi dan Misbun, yang kebetulan juga pergi malam sebelumnya untuk suatu keperluan yang berbeda dengan saya, mengatakan dengan penuh kepastian bahwa benda itu memang benar-benar kemenyan yang dibakar.

Terlepas dari apa pun benda itu, nyatanya apa yang mereka lakukan itu sulit tidak bisa kita benarkan. Kalau pun itu bukan kemenyan, tetap saja mereka melakukan sebuah kebid’ahan, karena yang mereka lakukan tidak ada contohnya dari Rasulullah. Lebih parah lagi, jika benar-benar mereka sedang membakar kemenyan. Jika mereka kemudian melanjutkan dengan memohon doa kepada selain Allah, entah orang alim yang pernah hidup bersama mereka dahulu, atau bahkan Rasulullah sekalipun, dengan tujuan apa pun (saya curiga mereka akan meminta keselamatan bagi rumah tersebut dan penghuninya. Kecurigaan saya bukan tanpa alasan. Terus membaca untuk mengetahui alasannya) maka mereka telah terjebak dalam jurang kesyirikan. Padahal, bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram… (Al-Maidah:2)

semoga Allah melindungi kita dari dosa syirik, bid’ah, dan syubhat

Saat daftar ulang…

Lebih kurang sebulan sebelumnya, saat daftar ulang, saya juga melihat kejadian yang agak mengganggu pikiran semua orang berakal yang melihatnya. Seorang manusia, tidak terlalu jelas siapa karena malam itu cukup gelap, menyebar bunga mengelilingi (calon) rumah minimalis itu. Entah apa yang dia lakukan. Hanya saja, siapa pun akan memiliki persepsi yang sama jika melihat kejadian itu. (Atau hanya perasaan saya saja? Semoga Allah mengampuni saya dan melindungi saya dari lemahnya perasaan)

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari tulisan ini

footnote:

*) Tanggal 8 Desember memang bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah. Namun, dalam penanggalan hijriyah, satu hari dimulai ba’da maghrib. Jadi tanggal 8 Desember ba’da Isya’ bertepatan dengan tanggal 11 Dzulhijjah


Responses

  1. Mas-mas kejawen ya?
    —-
    Tasrik tu pake Q, tasyriq.

  2. hehehe….Mas Aku pUnya PUISI BWATMU

    akhirnya saya bisa masuk…
    ke scsc unila untuk ngeblog…
    memang hari ini cuma 1 mata kuliyah…
    jadi saya bisa mampir-mampir…
    ternyata di blog mas Abrar ada link blogmu…
    dan aku mampir lagi ke sini…
    capek deh udah dari tadi…
    ngganti header+ngasih posting 1…
    begitu capeknya…

  3. walah per, parah banget, tempatku kalo malem senen baru rame, coz ada orgenan yang udah jadi tradisi gitu..hehe.

  4. @ abrari
    makasih mas koreksinya. tombol keyboardnya udah nggak jelas, nggak bisa mbedain “k” sama “q”. bercanda deng. y udah tak ganti

  5. […] Anda sebagai mahasiswa STAN mungkin sudah tidak asing dengan masjid asysyuhada, sebuah masjid cukup besar dengan kubah hijau yang begitu mencolok yang tampaknya menjadi pusat peribadatan umat muslim di segenap jalan Ceger Raya. Kegiatan jamaah masjid ini tidak lepas dari berbagai tradisi bid’ah (sejak Januari lalu, mereka tampaknya sudah merencanakan dengan sangat matang acara maulid. Mudah-mudahan tidak mengganggu waktu tidur saya) dan tradisi-tradisi parah lainnya (sudah baca tulisan saya yang lalu tentang “kemenyan”? Jika belum, baca di sini). […]

  6. Anda itu kan Mahasiswa. Pelajari Sikap Nabi waktu menghadapi orang-orang Syirik! Kelihatannya anda ini seperti Tuhan, bisa mengadili orang-orang Syirik! Nabi aja yang jelas ahli syurga tidak gampang menyebut orang dg kata-kata Syirik. Dengan tabiat anda yang penuh CURIGA, artinya anda termasuk seorang yang dicatat dlm Qur’an surat AL HUMAZAH (PENGUMPAT) ayat ke-1, MOHON DIBUKA QUR’AN nya ya

    1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela!!!!

    Wasalam
    Rachmat Sahputra

  7. wah2….ternyata kyk gitu ya…
    tapi saya pernah beberapa kali liqo kok di serambinya asysyuhada,dan blm pernah ada yg menegur…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: