Oleh: bloksaya | Januari 22, 2009

SensOpost, Kenangan Itu Masih Ada

Pernahkah Anda mendengar nama SensOpost? Jika Anda pernah bersekolah di SMP 1 atau SMA 1 pada angkatan saya, seharusnya Anda pernah mendengarnya. Jika belum, malang sekali Anda.

Sebenarnya, saya juga kurang tahu mengapa saya menulis tentang SensOpost. Yang jelas, pada suatu sore, saat saya sedang membicarakan ospek dengan Denny, tiba-tiba dia mengutip sebuah kalimat dari SensOpost. Ketika saya bilang bahwa MOS di SMA memang benar tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ospek di universitas, dia tiba-tiba tertawa karena ingat sebuah kalimat dari beberapa kalimat MOS yang kami tulis di SensOpost, yaitu kalimat dari seorang senior yang lebih kurang “Kalian tuh masih bisa dikeluarin, bertaruh saya!”. Hal ini membuat saya kembali mengenang masa-masa itu. Tidak terasa segalanya telah terjadi bertahun-tahun lalu.

SensOpost adalah sebuah koran yang terbit seabad sekali. Koran tersebut tetap dapat terbit di berbagai zaman, termasuk zaman kita karena dukungan sistem pengiriman antardimensi, waktu dan tempat. Bahkan bisa dikirim ke alam setelah kematian! Terdengar tidak masuk akal? Tentu saja, karena ini hanyalah imajinasi sekelompok siswa SMP.

SensOpost pada mulanya terbit karena ketidaksengajaan yang disebabkan suatu “konflik” yang melibatkan direktur utama, kepala redaksi, dan semua jabatan lainnya, Mas Khafidz Mubarak, dengan salah seorang guru SMP kami. Sejujurnya, saya lupa bagaimana detailnya(sekedar info, saya termasuk manusia dengan memori sangat terbatas sehingga mudah lupa), yang jelas, kemudian secarik kertas yang merupakan SensOpost edisi pertama muncul. Semua tulisan dan ilustrasi dibuat dengan tangan Mas Khafidz sendiri. Edisi pertama ini diluar dugaan telah cukup “laris”. Kemudian, edisi-edisi selanjutnya terus terbit dengan berbagai perubahan. Tentunya sudah dengan sistem yang lebih terkomputerisasi. Tentunya juga mendapat tanggapan yang baik dari segenap pembaca.

Satu edisi yang menjadi masterpiece kami adalah edisi perpisahan SMP. Kami berhasil mengumpulkan tanda tangan dari banyak siswa SMP 1. Bahkan edisi ini terbit beberapa kali dengan beberapa versi. Satu-satunya saingan SensOpost edisi ini mungkin sebuah papan alas ujian legendaris milik Mas Hendri yang juga berhasil mengumpulkan banyak sekali tanda tangan. Terakhir, saat mabit bulan Desember lalu, papan itu masih terjaga dengan baik di sekretariat Rismansa.

Setelah sempat menerbitkan edisi MOS, Redaksi SensOpost memutuskan untuk menerbitkan edisi gulung tikar, yang menjadi pertanda awal bahwa kami akan gulung tikar. Ini memang sudah menjadi keputusan dari Mas Khafidz, karena menurutnya kami harus lebih dewasa dan realistis setelah SMA. Entah apa relasinya. Yang jelas, kami akhirnya benar-benar gulung tikar. Namun, Kenangan akan masa-masa kejayaan itu masih ada, dan tetap akan ada di dalam hati kita semua (iya tah?)

SensOpost, disadari atau tidak telah mengantarkan sebagian manusia ke gerbang popularitas, sesuatu yang sebenarnya tidaklah menyenangkan. Tentu saja kita mulai mengenal Punk-5 (baca: panglima) dari beberapa edisi SensOpost. Wanted (saya lupa nama aslinya) mungkin adalah adik kelas paling “beruntung” karena sempat muncul di SensOpost. Julukan-julukan lain juga banyak bermunculan dari SensOpost, baik yang pernah diterbitkan atau sekedar “kode” untuk membuat obrolan antarredaksi lebih nyaman. Rocker Qasidah (belakangan dikenal dengan Rocker saja. Aslinya bernama Dina M.), Sunan Tompel (tentu kita semua tahu, lihat blog beliau di sini), Her, Engga, para wanita dengan kode 00x, dan masih banyak lagi.

Namun, ada sebuah wacana yang berkembang di antara teman-teman SMP bahwa para redaksi SensOpost terlalu bersikap eksklusif saat masa-masa kejayaan itu, setidaknya demikian yang diakui beberapa teman. Sebenarnya, kami tidak pernah berniat untuk bersikap seperti itu. Kami tetap bersikap “biasa”, meskipun terkadang keadaan memaksa kami untuk agak bersikap demikian.

Bagaimana pun, SensOpost memberi saya banyak pelajaran. Melalui SensOpost, saya semakin mampu menyampaikan berbagai opini melalui tulisan dan gambar serta berbagai hal berbau visual lainnya. Di lain sisi, sesuai dengan prinsip oportunity cost dalam ekonomi, kemampuan sosialisasi saya semakin buruk, terutama kemampuan berbicara di depan umum.

Itulah sekelumit kisah SensOpost..

Redaksi:
Mas Khafidz Mubarak, kini tercatat sebagai mahasiswa Teknik Sipil Unila
Mas M. Abrar Istiadi, kini tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Komputer IPB, lihat blog beliau di
sini
Mas M. Albadr L. Nst., kini tercatat sebagai mahasiswa STEI ITB, lihat blog beliau di
sini

Responses

  1. SP kan isinya hujatan dan ghibah🙂
    males ah…
    tapi jadi rindu…

  2. wah,ngoperamini nih

    y emg,SP kbykn isina ghibah&hujatan,makanya jd mncul byk bgt julukan.biar ghibahnya jd lbih “nyaman”🙂

    yah,namanya jg ank SMP🙂

  3. Wah Lucu yaaaaa!!!!
    Kapan maw buat lagi kalian….

    Kalo banyak ghibah mangkannya tobat!!!heleh

    Sekarang pake opera mini apek meneh….
    Informasi: HArdisku sudah 60 GB……
    Sekarang masih download acronis bwat martisi, tapi Rinsnya lemott…

  4. @maknyoss32
    hardiskmu baru 60 gb?
    punyaku ja 80, tp lg rusak🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: