Oleh: bloksaya | Januari 22, 2009

UTS: Mission Completed?

Fuh, akhirnya selesai juga UTS selama tujuh hari. Anda ingin tahu bagaimana rasanya UTS di STAN? Tidak? Saya tidak peduli apakah Anda peduli atau tidak, tetap akan saya ceritakan (maksa banget..)

Umum
Sebelum saya ceritakan bagaimana rasanya UTS di STAN, terlebih dahulu akan saya jelaskan istilah-istilah umum dan beberapa hal lain yang mungkin akan sering Anda temukan nanti. Bagian ini mungkin akan sedikit membosankan.

Dosko (singkatan dari Dosen Koordinator) adalah dosen yang mempunyai wewenang untuk membawahi dosen lainnya dalam hal pemberian materi, pengalokasian materi, pembuatan soal, dan tugas-tugas lainnya.Sebenarnya, istilah dosko ini belum berhasil saya temukan dalam peraturan-peraturan STAN. Dalam Keputusan Kepala BPLK(Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan) nomor KEP-207/BP/2000 BAB VIII mengenai tenaga pengajar, tidak disebutkan adanya tenaga pengajar yang bertugas seperti tersebut di atas. Faktanya, dalam peraturan tersebut bahkan tidak ada istilah “dosen”. Yang ada justeru istilah “tenaga pengajar” alih-alih “dosen”. Tampaknya hal tersebut (adanya dosko, pen) terjadi secara alamiah, kebutuhan manusia akan pemimpin. Namun, pada praktiknya, kebanyakan dosen akan mengajar sesuai “keinginannya” masing-masing. Di lain sisi, dosko-lah yang mempunyai kekuasaan mutlak untuk membuat atau memilih soal dari rekan-rekan dosen lainnya. Hal ini yang sering menyebabkan adanya kelas yang “merana” karena tidak mendapat materi yang dikeluarkan dalam ujian, di lain sisi akan ada kelas yang bersorak gembira karena soal-soal yang muncul semuanya ada dalam catatan mereka.
Kesekretariatan adalah suatu bagian yang bertugas sebagai perpanjangan tangan langsung lembaga, atau mungkin merekalah “lembaga” itu sendiri. Saya tidak berhasil menemukan mereka dalam referensi-referensi yang relevan, namun tampaknya mereka memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup pendidikan di STAN. Mulai dari menyediakan peralatan seperti spidol dan proyektor sampai hal-hal sensitif seperti permohonan untuk tidak di-DO bagi mahasiswa yang sudah “kritis”.

Hal lain yang sedikit perlu diketahui adalah mengenai tahun akademik. STAN memiliki tahun akademik yang berbeda dengan perguruan tinggi kebanyakan. Hal inilah yang membuat UTS kami sedikit “terlambat” dibanding teman yang lain. Dalam pasal 21 Keputusan Kepala BPLK yang telah disebutkan di atas, tahun akademik dimulai bulan September-Oktober, meskipun faktanya kami baru mulai kuliah bulan November. Mungkin karena peraturan tersebut dibuat lebih dari delapan tahun yang lalu sehingga dianggap sudah tidak relevan.

Seorang mahasiswa diperbolehkan mengikuti ujian semester hanya jika menghadiri minimal 80% jam mata kuliah, peraturan yang juga banyak berlaku di perguruan tinggi. Ini artinya setiap mahasiswa hanya dapat meluangkan waktunya untuk sakit, melayat, atau hal-hal lainnya maksimal 20% jam pertemuan, yang setelah diperhitungkan hasilnya sekitar tiga koma sekian kali pertemuan/semester dan dibulatkan tiga pertemuan/semester. Jika mahasiswa sakit/lainnya sehingga harus meninggalkan pertemuan perkuliahan lebih dari tiga kali, dia tidak akan dapat mengikuti ujian, dan akhirnya harus di-DO, kecuali jika alasannya dirasa cukup masuk akal oleh pihak kesekretariatan yang biasanya membutuhkan suatu usaha birokrasi tingkat tinggi.

Ujian susulan adalah ujian bagi mahasiswa yang tidak mengikuti ujian sesuai jadwal yang ditetapkan, sesuai dengan pasal 30 Keputusan BPLK seperti tersebut di atas, dengan syarat-syarat dan ketentuan-keentuan yang telah disebutkan dalam pasal tersebut.

Hari demi hari UTSku..
Kini kita menuju ke bagian yang tidak semembosankan bagian pertama di atas (walaupun tetap membosankan juga sebenarnya), cerita tentang pengalaman UTSku yang insyaallah akan saya ceritakan hari demi hari

Hari pertama (5-1-09); Agama
Setidaknya hari ini agama, ngerti dikit-dikit lah, itu yang saya pikirkan hari itu. Dosen saya telah memberi keringanan agar kami cukup mengerjakan soal yang beliau buat. Dan karena dosen agama saya bukan dosko, tampaknya itu langkah yang baik, mengingat materi yang beliau ajarkan sungguh berbeda dengan materi yang diberikan dosen kelas lain. Dengan cara ini, mahasiswanya diharap mammpu mengerjakan soal-soal dengan baik tanpa dipusingkan pikiran “wah, kok belum diajarin ya?” dan sejenisnya. Masalahnya adalah, dari semua soal yang dikeluarkan, bagaimana kita bisa tahu yang mana soal yang merupakan sumbangan dosen kami? Dan meskipun saya telah berusaha menjawab meskipun hanya sebatas yang saya ketahui saja, nyatanya jawaban saya berbeda dengan jawaban yang (ternyata) ada di buku (yang tidak pernah digunakan dosen saya untuk mengajar). Misalnya, pertanyaan tentang macam-macam tauhid. Tentunya saya hanya menjawab tiga macam tauhid sesuai pengetahuan saya. Ternyata, di buku ada tujuh (benar, tujuh) macam tauhid!

Hari kedua (6-1-09); Organisasi,Bisnis, & Manajemen (OBM)
Sejak awal, sudah dapat saya perkirakan bahwa OBM juga tidak akan jauh berbeda dengan Agama. Dosen OBM saya juga bukan dosko. Parahnya, di saat kelas-kelas lain, termasuk kelas yang diajar dosko, mempelajari bisnis & manajemen di tengah semester pertama ini, kelas kami justru belajar organisasi. Tentu hasilnya bisa Anda bayangkan.

Hari ketiga (7-1-09); Pengantar Akuntansi
Satu-satunya mata kuliah yang agak nyangkut di otak saya, ditambah kali ini pengajar kami adalah dosko. Sedikit ayem. Perasaan ini bahkan bertahan selama saya mengerjakan soal demi soal. Balance, balance, balance lagi.. Tampaknya segalanya berjalan lancar, bahkan tampaknya terlalu lancar. Saya bahkan selesai sebelum pukul 9.30, satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Namun, masalah baru dimulai di luar ruang ujian, ketika mencocokkan jawaban dengan teman. Konyolnya, setelah mencocokkan dengan dua teman lain, tidak ada jawaban di antara kami bertiga yang sama. Tiga jawaban dari tiga orang berbeda. Merasa membahas lebih lanjut tidak akan banyak berguna, saya memutuskan untuk pulang saja ke kos dengan hati gundah dan rasa kantuk.

Hari keempat (8-1-09); Pengantar perpajakan
Pernahkah Anda merasakan kuliah yang dimulai pukul 6.30 pagi, tiga kelas (sekitar 120 mahasiswa) dalam satu sesi, di ruangan yang tidak lebih besar dari ruang kelas standar SMAN 1, tanpa AC, dengan tiga SKS (3×50=150 menit) yang dipadatkan menjadi 90 menit? Saya pernah. Hal ini terjadi karena kesibukan sang dosen. Hasilnya, suasana belajar yang tidak kondusif, ditambah penjelasan dosen yang sering ngalor-ngidul. Lalu, apa yang bisa diharapkan saat UTS? Untungnya, saya berhasil mendapat beberapa pinjaman buku untuk mata kuliah yang satu ini, jadi agak sedikit membantu. Benarkah? Not exactly..

Hari kelima (9-1-09); Pengantar Ilmu Hukum
Yang satu ini lumayan lah. Setidaknya soalnya sesuai dengan materi di buku (atau tepatnya potokopian) yang saya pinjam.Walaupun tentunya ada sebagian soal tipe analisis yang agak menjengkelkan. Tapi, tentu ada sedikit masalah. Dosen yang bersangkutan pernah mengatakan secara implisit bahwa beliau adalah tipe dosen yang agak malas mengoreksi, apalagi jika tulisan mahasiswanya jelek. Tentunya Anda yang pernah mengenal saya mengetahui seperti apa tulisan tangan saya, bukan?

Break.. (10 s.d. 11-1-09)
Akhirnya UTS untuk minggu pertama selesai. Dua hari yang berharga itu tentunya saya gunakan semaksimal mungkin untuk hidup semanusiawi mungkin. Tidur cukup, bersepeda pagi setidaknya satu jam (Saya tidak percaya saya menulis kalimat ini, “olahraga itu penting”), mencuci (walaupun ternyata hujan akhir-akhir ini membuat cucian saya belum kering hingga saya menulis tulisan ini), menonton TV (kapan Digimon Savers mulai ya?), dan tentunya belajar.

Hari keenam (12-1-09); Pengantar Ekonomi
Inilah salah satu mata kuliah terberat dalam UTS ini. Meskipun namanya “pengantar”, mata kuliah ini sama sekali bukan “pengantar”. Yang kami pelajari adalah mikroekonomi, dengan segala seluk-beluknya yang terkadang membuat muak. Bayangkan, kami harus menguasai 14 bab buku berkover merah-hijau itu. Dosen saya telah memperingatkan bahwa soal kami saat UTS nanti murni soal analisis (nggak “pengantar” banget kan?). Benarlah, soal-soal kami murni soal analisis tingkat tinggi (sepertinya dosen kami lupa memberitahu bagian “tingkat tinggi”nya).Parahnya, karena dosen saya belum memberi materi tentang pasar sebanyak empat bab yang seharusnya sudah kami terima di tengah semester pertama ini, hari sebelumnya saya belajar keras memahami semua teori dan analisisnya serta berbagai kemungkinan kurva jangka pendek maupun jangka panjang, yang ternyata sama sekali tidak keluar saat UTS!

Hari terakhir (13-1-09); Hukum Keuangan Negara
The last and the hardest. Memahami sebegitu banyak undang-undang dan peraturan pemerintah tidaklah pernah mudah. Membacanya pun sudah cukup membosankan, apalagi memahami bab demi bab, pasal demi pasal, ayat demi ayat, angka demi angka, huruf demi huruf.. dan kesulitan terbesar tentu mengaitkannya dengan berbagai kejadian dalam masalah keuangan negara. Dan tampaknya, sepuluh soal essay (tetap ada analisisnya juga) belum cukup untuk membuat para dosen puas. Dengan penuh kerendahan hati, mereka juga menambahkan 50 soal pilihan ganda dan 15 soal benar-salah. Dan tentu semuanya mengacu pada undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Begitulah lebih kurang pengalaman UTS pertama saya di STAN ini. Bagaimanapun, saya sangat bersyukur karena akhirnya semuanya telah selesai. Kini yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan tawakkal.

UTS: Untung Tidak Sakit
UTS kali ini kebetulan dilaksanakan saat cuaca sedang sering tidak bersahabat, hujan turun tiba-tiba, lalu panas, hujan lagi..
Akibatnya, banyak mahasiswa, yang notabene baru saja kembali dari daerah asal masing-masing dan merasakan nyamannya rumah, jatuh sakit karena kaget setelah kembali ke dunia anak kosan. Ditambah lagi beban UTS yang tidak bisa dibilang ringan.
Teman-teman se-SMA saya yang sekarang satu kosan pun tidak mau kalah ikut-ikutan sakit. Dimulai dari Misbun dan Roni, lalu Deni. Adi bahkan sudah sakit sejak di Metro, mungkin karena kelelahan setelah pulang dari Magelang. Tema sekelas saya bahkan ada yang tidak bisa ikut UTS selama beberapa hari. Alhamdulillah, saya yang pernah divonis sebagai makhluk berfisik lemah oleh teman semasa SMA saya tidak ikut-ikutan sakit juga.
Meskipun ada UTS susulan seperti yang telah saya sebutkan dia atas, tapi birokrasinya cukup rumit. Syaratnya, sakit (tentunya sesuai “standar” yang ditetapkan pihak lembaga), melahirkan (tentunya hanya mahasiswa DIV yang mungkin memiliki alasan seperti ini, dan tentunya bukan saya), atau ada saudara dekat yang meninggal (benar-benar dekat secara silsilah. Nenek tidak termasuk). Selain itu, permintaan susulan pun maksimal dua minggu setelah UTS selesai. Padahal, bukankah penyakit berat biasanya tidak bertahan beberapa hari saja? Di lain sisi, tentu Anda tidak akan diijinkan mengikuti UTS susulan jika Anda beralasan sedang pilek atau penyakit ringan lainnya. Lalu bagaimana nasib mahasiswa yang sakit lebih dari dua minggu sejak UTS selesai? Kemungkinan terbaik, mengulang lagi tahun depan, namun tetap harus mengajukan permintaan susulan maksimal dua minggu setelah UTS. Maka, sudah seharusnya kita yang diberi kesehatan dan masih bisa mengikuti ujian bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Dia yang ada di atas langit.

Pelajaran yang perlu kita ambil, selalulah jaga kesehatan Anda. Makan teratur dan bergizi, berolahraga, minum susu, kalau perlu minumlah suplemen atau multivitamin, jangan lupa berdoa agar Alloh selalu memberikan kesehatan dan kemudahan dalam menjalani hidup yang fana ini.

Notes:

Tulisan di atas sebenarnya telah saya buat minggu lalu meskipun belum sempat diposting. Karenanya, saya akan memberi beberapa penyesuaian agar tetap relevan:

>jemuran yang saya sebutkan dalam tulisan di atas kini sudah kering

> alhamdulillah, nilai UTS akuntansi telah keluar. Alhamdulillah saya mendapat nilai 95, karena kesalahan yang lebih disebabkan kecerobohan yang insyaallah akan coba saya perbaiki di masa yang akan datang.

>teman saya ternyata ada yang belum ikut UTS karena sakit. Tampaknya dia hanya perlu menghubungi dosen. Entahlah, peraturan tampaknya memang dibuat untuk dilanggar

>Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dua mahasiswa akuntansi yang meninggal saat/berdekatan dengan UTS, Gilang Pratama Chaniago (NPM : 08360015093) dan Yusup Supriadi (NPM : 08360015575)


Responses

  1. Lagi rampung UTS?
    Aku aja udah liburan semester…

  2. […] Untuk masalah UAS, saya tidak perlu menceritakan karena yang saya alami hampir sama dengan pengalaman saya semasa UTS yang lalu (belum baca? klik di sini) […]

  3. […] juga: “UTS, mission completed?”, pengalaman pertama saya mengikuti ujian di […]

  4. […] juga: “UTS, mission completed?”, pengalaman pertama saya mengikuti ujian di […]

  5. […] The exam effects Alhamdulillah, Ujian Tengah Semester (selanjutnya disebut UTS) selesai juga. Ujian kali ini tidak jauh berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya (baca tulisan saya yang terdahulu di sini dan di sini). […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: