Oleh: bloksaya | Februari 11, 2009

BLM dalam sorotan

BLM atau Badan Legislatif Mahasiswa, seperti dapat dilihat jelas dari namanya, adalah suatu badan legislatif mahasiswa STAN. Dulu, badan ini bernama Senat Mahasiswa, sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Kepala BPLK nomor KEP-208/BP/2000 tanggal 28 Agustus 2000 pasal 17 ayat (1)

Wadah organisasi untuk menampung kegiatan mahasiswa yang sifatnya non akademis/ekstra kurikuler adalah Senat Mahasiswa/Badan Eksekutif Mahasiswa

(Jika Anda perhatikan, dalam keputusan kepala BPLK di atas banyak penulisan yang menyalahi kaidah bahasa Indonesia)

Dari namanya, jelas terlihat bahwa BLM memegang peran sebagai lembaga legislatif (secara pribadi,saya tidak menyetujui Trias Politica) atau pembuat peraturan, tentunya peraturan yang melibatkan mahasiswa dalam kegiatan berorganisasinya, bukan kegiatan dalam kerangka akademis. Dan seperti kita tahu, lembaga-lembaga jenis ini memang secara alami selalu bekerja di balik layar. Fakta ini membuat sebagian (besar) mahasiswa mempertanyakan kinerja BLM. Ditambah lagi pers yang cukup memiliki pengaruh di STAN membuat BLM semakin tenggelam. Parahnya, BEM, organisasi “sepermainan” BLM tampaknya juga kurang memberi dukungan. Tidak heran jika kemudian BLM menjadi kegerahan (mungkin juga karena listrik BLM yang (sempat) padam yang membuat AC tidak bisa dinyalakan).

Merasa kerjanya tidak dianggap, BLM kemudian menggunakan senjata terhebat hasil peradaban manusia. Apalagi jika bukan melalui media. Bahkan kini, tampaknya BLM bertekad mempublikasikan semua hal yang mereka lakukan agar mereka lebih dianggap. Realistiskah? Saya tidak yakin, apalagi jika semua mahasiswa seapatis saya🙂

Tidak mengagetkan jika akhir-akhir ini banyak bertebaran selebaran-selebaran “pembelaan diri” dari BLM. Entah kenapa, dari semua tulisan yang dibuat BLM, saya mendapat kesan bahwa mereka benar-benar butuh perhatian. Bukannya hal itu salah. Hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Tapi begitukah caranya? Saya tahu rasanya bekerja di balik layar. Semasa SMA, dalam berbagai kepanitiaan yang sempat saya ikuti, saya hampir selalu bekerja di balik layar. Memang melelahkan. Penghargaan pun tak sebanding (faktanya, mendapat penghargaan pun sudah bisa dibilang beruntung. Kebanyakan hanya menjadi kambing hitam atas berbagai kesalahan yang terjadi). Namun, itu adalah jalan yang telah mereka pilih. Lalu kenapa mereka harus seberlebihan itu? Baiklah, mungkin terlalu kejam jika disebut berlebihan. Tidak proposional mungkin lebih cocok.

Beberapa hari yang lalu, muncul sebuah tulisan di mading. Satu lagi tulisan buatan BLM. Judulnya sedikit norak. “BLM Biasa Luar Mahasiswa”. Judulnya ditulis dengan efek mirror, sepertinya agar terbaca “Mahasiswa Luar Biasa”. Cukup norak, namun patut dihargai. Sekali lagi, dari tulisan tersebut saya mendapat kesan yang sama, seolah-olah membaca surat dari seorang anak yang telah lama berpisah dengan ibunya dan ingin kembali ke pelukannya. Isinya, tentang anggota BLM yang tadinya mengira bahwa dirinya akan bersantai-santai ketika bergabung dengan BLM, namun ternyata pekerjaan yang dihadapinya jauh lebih berat.

Namun, ada sebuah kalimat dalam tulisan tersebut yang perlu sedikit saya kritisi di sini, karena ada hubungannya dengan aqidah. Kalimat berbunyi “…orang-orang yang ikhlas mengabdikan diri dan memang ingin menghidupkan BLM.” Meskipun kalimat serupa sangat lazim diperdengarkan (apalagi jika berhubungan dengan utang), perlu diluruskan di sini bahwa ikhlas itu hanya untuk Alloh. secara harfiah, ikhlas berarti memurnikan. Jadi, ikhlas artinya memurnikan segala sesuatu hanya untuk Alloh semata, jadi tidak bisa dikatakan “ikhlas untuk mengabdikan diri kepada BLM”. Jika tidak hati-hati, kalimat-kalimat semacam ini berisiko membawa kepada kesyirikan.

Kembali ke pokok permasalahan. Beberapa hari berselang pascarilis tulisan di atas (mungkin sekitar 2-3 hari, yang jelas tidak sampai satu minggu), muncul tulisan lain tentang BLM. Judulnya, “BLM Undercover” (ha? BLM di bawah sampul? :))

Tulisan ini secara garis besar isinya menolak tulisan BLM yang pertama. Berlawanan dengan tulisan pertama yang tampak dengan jelas (bahkan terkesan memelas) agar para mahasiswa ikut berpartisipasi dalam BLM, tulisan kedua ini dengan tegas melarang mahasiswa mengikuti BLM. Tentu dengan berbagai alasan. Mulai dari tidak adanya snack (snake? serem…) dan minuman saat sidang, berkurangnya jatah liburan, dan lain sebagainya. Tulisan ini dengan tegas melarang siapa pun mengikuti BLM, kecuali yang memang benar-benar siap tersiksa.

Tapi, seperti biasa saya merasakan adanya kejanggalan dalam tulisan ini. Sebenarnya, siapa pun yang mau sedikit jeli akan merasakan kejanggalan ini. Setelah dicermati, tulisan ini (yang saya lihat sempat membuat beberapa panitia pemira tingkat 1 heboh) sama sekali tidak melawan tulisan terdahulunya. Tulisan ini mendukung 100% tulisan pertama, agar para mahasiswa ikut berpartisipasi dalam BLM!

Analoginya, jika saya mengatakan kepada Anda jangan memakan suatu makanan karena rasanya aneh, apa yang Anda lakukan? Mungkin Anda mulanya akan menuruti saya. Namun terkadang, rasa ingin tahu manusia adalah sesuatu yang tidak dapat terbendung. Atau misalnya jika Anda ingin mendaftar jurusan Ilmu Komputer UGM saat SPMB dan ternyata hanya tersedia tiga kursi, apa yang akan Anda pikirkan? Anda tidak akan mungkin lolos? Coba pikir lagi. Bagaimana jika semua manusia di Indonesia berpikir hal yang sama dengan Anda? Tidak ada seorang pun yang akan mendaftar. Artinya, peluang Anda justeru sangat besar. Saya sebut hal ini sebagai “teori kebalikan”. Contoh lain, seperti sebuah episode dalam serial Spongebob Squarepants, ketika Spongebob dan Patrick melihat iklan roller coaster terbaru dengan fitur-fitur superseram, apa yang mereka lakukan? Mereka justeru semakin ingin mendatangi wahana tersebut, meskipun mereka sebenarnya ketakutan setengah mati.

Kecurigaan saya tersebut bukan tanpa alasan. Faktanya, dua tulisan tersebut muncul dalam waktu yang berdekatan, keduanya muncul dalam suasana Pemira (Pemilihan Raya, sebuah “pemilu” di STAN untuk memilih presma, wapresma, serta anggota BLM. Saya berencana untuk golput :)). Tidak mustahil kedua tulisan tersebut dibuat untuk menarik minat sebanyak-banyak mahasiswa untuk berpartisipasi dalam BLM, terutama yang memang mau bekerja keras. Hal ini dipertegas dalam tulisan kedua. Seperti telah saya sebutkan, larangan justeru sangat menarik bagi seseorang. Teori kebalikan.

Selain itu, jika salah satu atau kedua tulisan tersebut ilegal (ada kesan bahwa kedua tulisan tersebut dikeluarkan oleh individu. Meskipun mengatasnamakan BLM, kedua tulisan tersebut tampak sangat subjektif, tidak menampakkan BLM sebagai suatu lembaga yang sedang “berbicara”. Karenanya, keduanya seharusnya ilegal. Tidak mungkin individu-individu bebas menempel tulisan di mading. Dibutuhkan suatu izin khusus untuk menempelkan apa pun di mading. Tidak mingkin pula bagi BLM mengizinkan individu-individu mengeluarkan tulisan mengatasnamakan BLM), seharusnya tulisan-tulisan tersebut segera dicabut dari mading. O iya, saya baru ingat bahwa tulisan pertama tidak ditempel, tapi dibagikan. Hal ini semakin memperkecil kemungkinan bahwa tulisan pertama ilegal. Untuk kasus tulisan kedua, tampaknya tidak ada usaha untuk melepas tulisan tersebut dari mading. Kalaupun usaha tersebut ada, tampaknya itu memang sudah menjadi skenarionya.

Dari beberapa alasan di atas, tampaknya memang keduanya adalah bumbu-bumbu penyedap dalam Pemira. Bahkan mungkin saat ini kedua tulisan tersebut terpajang dengan penuh kebanggaan di sekretariat BLM.

Faktanya, tahun lalu memang hanya ada 18 manusia yang menjadi anggota BLM, dari seharusnya 30 manusia. Tampaknya, BLM berharap menemukan orang yang tepat. Orang yang mampu menghadapi berbagai masalah sambil tetap tenang. Sensitif terhadap masalah namun tetap kebal akan masalah tersebut. Mampu membaca situasi dan membalikkan situasi terburuk menjadi situasi yang jauh lebih baik. Namun, adalah sulit mendapatkan manusia seperti itu. Faktanya, orang-orang yang hebat tidak akan punya waktu untuk mengurus hal-hal yang mungkin kurang berguna. Orang hebat itu mungkin kini telah keriput, berjenggot panjang, beruban. Orang itu mungkin sedang sibuk membaca buku-buku tebal berdebu, meneliti keabsahan suatu hadits. Atau mungkin orang itu kini sedang berdiam di rumah, mengurusi anak-anaknya, mempersiapkan makanan terenak untuk suaminya tercinta. Atau orang itu mungkin adalah seorang bocah yang sedang terlentang di atas atap rumah orang tuanya, memandangi langit, mengagumi penciptaan alam semesta sambil bertasbih memuji Rabbnya. Mereka, orang-orang hebat itu, tidak punya waktu untuk berpolitik, terlibat dalam praktik demokrasi yang telah terbukti bukan merupakan jalan terbaik. Bukan karena mereka tidak peduli. Mereka peduli, tapi dengan cara yang berbeda, bahkan mungkin dengan cara yang lebih baik.

Di penghujung tulisan ini, saya berharap semoga pencarian BLM pada akhirnya tercapai, meskipun (sempat) tanpa listrik, meskipun tenggelam, karena mutiara itu mungkin saja berada jauh di dasar sana.

Semoga Alloh mengaruniai kepada kita hikmah agar kita dapat melihat melalui sudut pandang yang lebih benar

Wallahu a’lam

Rencana saya untuk golput tampaknya akan mendapat sedikit hambatan, mengingat selain ada beberapa kenalan yang menjadi panitia pemira, juga disebabkan salah seorang kakak tingkat yang sudah saya kenal sejak SMA, Mas Arif Saputra menyalonkan diri menjadi Calon Wakil Presiden Mahasiswa

Hipotesis saya bahwa pendaftar anggota BLM tidak akan mencapai 30 manusia terbukti. Hingga akhir masa pendaftaran, hanya 13 (atau lebih, saya tidak terlalu ingat, yang jelas belum mencapai angka 20) manusia yang mendaftar


Responses

  1. fer, tinggal ngomong wes tw dados meniko mboten saget mekso2 panjenengan, ngomongnya sambil becanda aja

  2. RALAT:
    28 ORANG yang nyalon BLM.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: