Oleh: bloksaya | Februari 11, 2009

Bocah-bocah itu…

Matahari bersinar tanpa malu-malu siang itu, tidak seperti biasanya di musim hujan seperti ini. Suasana yang syahdu selepas sholat dzuhur. Tiba-tiba bocah perempuan itu mendekatiku. Umurnya sekitar lima atau mungkin empat tahun. Aku tidak tahu pasti. Pakaian bocah itu begitu lusuh. Rambutnya yang kemerahan begitu berantakan. Wajahnya seperti tidak pernah tersentuh air, meskipun mengingat saat itu aku sedang duduk di teras masjid, seharusnya air melimpah. Dan memang benar ada banyak air di sana. Mata bocah itu berair. Bocah itu menatapku. Kalimat yang keluar dari mulutnya sudah bisa kuduga. “Minta uang, Pak,” katanya. Aku hanya menggeleng lemah sambil berusaha tersenyum. Senyum untuk menutupi betapa pedihnya hatiku.

Di sini, di sekitar STAN, terutama di sekitar masjid-masjid dan tempat-tempat makan yang selalu dipenuhi manusia, bocah-bocah seperti itu sangat mudah ditemui. Sebuah gambar buram di daerah yang notabene dekat dengan pusat negeri ini. Bocah-bocah itu hanyalah korban dari jiwa-jiwa tak bertanggung jawab, yang terjebak dalam tipuan dunia. Yang mengorbankan kehormatan demi harta. Mengumandangkan alasan ekonomi untuk menghalalkan pengeksploitasian anak-anak di bawah umur. Padahal, meminta-minta adalah amalan yang tidak disukai dalam Islam.

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta.
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

Tiga perkara (Rasulullah, –peny) yang aku bersumpah atas tiga perkara tersebut dan menceritakan kepada kalian maka jagalah : Tidak akan berkurang harta yang dishodaqohkan dan tidak seorang hamba dianiaya dengan satu kedholiman kemudian dia bersabar (atas kedholiman) kecuali Allah akan menambahkan baginya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Allah akan membaginya pintu kefakiran. (Turmudzi Kitab Az-Zuhd 4:487(2325) dari hadits Abi Habsyah)

Sangat mengecewakan, kebanyakan manusia tidak bertanggung jawab tersebut adalah orang tua bocah-bocah itu sendiri. Suatu hari saya pernah meliat seorang ibu yang memerintahkan anak-anak kecil untuk berpencar dalam meminta-minta (agak sulit menggambarkan kejadiannya secara gamblang). Dan yang semakin membuat sakit hati, kejadian itu terjadi tepat setelah solat Jum’at. Padahal, tidak sedikit dari anak-anak itu yang merupakan anak laki-laki. Alih-alih mengajari bocah-bocah lugu itu untuk mandi Jum’at, memakai pakaian yang baik, memakai wangi-wangian lalu pergi ke masjid untuk sholat Jum’at, mereka justeru mengajarkan bocah-bocah itu untuk berpenampilan sekotor mungkin, memakai pakaian terburuk mereka, lalu pergi ke masjid untuk emminta-minta. Pemandangan yang sangat menyayat hati.

Meskipun dengan alasan apa pun, tidak pantas orang tua menyuruh anak-anak mereka berbuat hal demikian. Pernahkah mereka berpikir apa yang akan terjadi pada anak-anak mereka beberapa tahun lagi jika kini anak-anak itu dididik dengan cara demikian?

Ada beberapa kejadian yang juga cukup membuat saya merasa tidak nyaman. Suatu hari, saya lihat dua anak di antara bocah-bocah itu sedang bermain kelereng di halaman Masjid Baitul Maal. Bagus, setidaknya ada hal lain yang bisa dan seharusnya mereka lakukan. Namun, ternyata perkiraan saya salah. Ketika datang seseorang, salah seorang yang semula ceria bermain kelereng mendadak kembali memasang tampang sedih kemudian mulai mendekati orang tersebut. Setelah bocah itu merasa urusannya dengan orang tadi selesai, dia kembali bermain kelereng dengan ceria. Kejadian yang lain, ketika seklompok bocah laki-laki meminta-minta di suatu tempat makan, seperti biasa dia memasang wajah memelas. Ketika dia “berhasil” mendapat uang yang sepertinya Rp 500, dia kembali kepada teman-temannya sambil tertawa. Ketika temannya yang lain “tidak berhasil”, mereka mengejeknya, masih sambil tertawa-tawa. Tahukah Anda apa yang ingin saya sampaikan dari kejadian di atas? Anak-anak itu menganggap meminta-minta sebagai sejenis permainan. Lalu?

Tahukah Anda apa konsekuensinya? Makhluk hidup kebanyakan, terutama hewan dan manusia, menggunakan bermain sebagai pembelajaran. Bukan hanya pembelajaran seperti yang kita dapat di bangku sekolah atau kuliah yang mungkin beberapa tidak berguna. Lebih dari itu, mereka sedang belajar tentang cara hidup mereka. Anak-anak kucng belajar memanjat untuk mempersiapkan kehidupan mereka setelah dewasa. Bermain kejar-kejaran, agar mereka mampu berburu nantinya, dan seterusnya. Begitu juga manusia, bermain adalah cara paling efektif untuk belajar. Sekarang, coba renungkan jika meminta-minta dianggap sebagai bagian dari suatu permainan (baca: pembelajaran) bagi bocah-bocah itu? Memang, tempat tinggal mereka begitu tidak layak. Mereka pun tampak sangat kekurangan dalam segala hal. Tapi, meminta-minta bukanlah jalan keluar terbaik. Apalagi mengajari bocah-bocah yang masih jauh dari kematangan berpikir untuk melakukan hal tersebut. Manusia, janganlah pernah lupa akan janji Rabb kita. Berimanlah dengan iman yang benar, maka Dia akan menolong kita. Siapakah yang lebih benar perkataannya selain Alloh?

Maka bersabarlah, sesunggunya kesudahan itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman. Saudaraku sesama muslim, mari kita bantu mereka dengan kemampuan kita. Doakan mereka agar mereka terlepas dari segala kepayahan ini. Doakan mereka agar ilmu smapai kepada mereka sehingga mereka dapat meninggalkan kebiasaan buruk mereka. Bantu mereka dengan harta jika Alloh telah memberikan kelebikan harta bagi kita. Maka kewajiban kita,j angan lupakan bagian mereka dalam harta kita. Tunaikan zakat jika Anda memiliki kelapangan, di mana pun Anda berada karena mereka ada di mana pun di negeri ini.

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta) (al-Ma’arij:24-25)

Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta ( Al Hajj 36)

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (at-Taubah:103).

Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita Semoga Alloh memberi kita kelapangan agar dapat membantu mereka yang membutuhkan

Wallahu a’lam


Responses

  1. apa iya per.

    disini kok jarang yang kayak begitu ya.

  2. iya per, sm aja di mui (masjid ui)juga banyak.

  3. disini juga ada.
    exploitasi.

    tapi yang banyak anak-anak penjual makanan kecil.
    sedikit lebih baik daripada meminta-minta…

  4. masih idup per?
    ngapain aja lo di sana?
    Pelajaran IPS mua kaya disini gak?
    ip gua ada yang C+ euy, gak ngerti dah pa mau dosen tu…

  5. Fer, minta izin

  6. […] Sedih melihat mental rakyat Indonesia ini. Mental pengemis. Mengamen menurutku hanyalah salah satu teknik atau versi lain dari tindakan emis. Menjual suara di jalan? Gundulmu. Lebih besar mengganggunya daripada nikmatnya suara mereka. Ada yang cuma krecek-krecek, lalalala, meskipun satu dua lumayan. Tapi, melihat mudanya, energiknya, dan kedotnya pengemis-pengemis suara ini membuat muak. Yang kecil pun tidak ketinggalan mengemis. Untuk cerita tentang mirisnya melihat pengemis kecil baca ini. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: