Oleh: bloksaya | April 4, 2009

Secuil borok demokrasi

Pesta demokrasi tinggal menghitung hari. Seperti laiknya kebanyakan pesta, pesta yang satu ini pun tidak akan memberikan apa pun kecuali keburukan. kalau pun ada kebaikan padanya, kebaikan tersebut akan terlalu sedikit jika dibandingkan dengan keburukannya.

Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak negara. (http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi)

Sudah menjadi hal yang umum bagi kita bahwa istilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno, besutan Plato dan antek-anteknya, yang notabene adalah para filsuf dengan pola pikir tak lazim. Setelah melewati waktu, demokrasi kemudian dipoles agar lebih (menurut mereka) modern dan (menurut mereka juga) relevan dengan zamannya. Kemudian, hasil polesan pemikir-pemikir kufur ini pun akhirnya diterima di banyak negara, tentu tidak ketinggalan negara kita, padahal sistem ini sungguh jauh dari Islam, meskipun banyak pendukungnya yang berlindung dibalik perintah untuk bermusyawarah (penjelasan tentang hal ini, silakan baca di sini)

Meskipun banyak pihak telah mengetahui bahwa demokrasi sejatinya bukan berasal dari syariat Islam, namun tetap saja banyak yang mengagung-agungkan sistem ini, diakibatkan pemahaman yang kurang tentang ilmu agama yang dibarengi semangat yang terlalu menggebu-gebu. Yang kini cukup membuat kita bertanya-tanya adalah usulan salah seorang kader suatu partai yang mengaku mengusung panji Islam agar MUI menetapkan fatwa haramnya golput. Hingga kini, penulis belum tahu apakah fatwa tersebut telah keluar atau belum. Hanya saja, tampaknya sejauh ini MUI cukup rasional dalam mengeluarkan fatwanya sehingga kemungkinan besar fatwa akan haramnya golput tersebut tidak akan terwujud. Namun, kalau pun seandainya fatwa tersebut benar-benar wujud pada akhirnya, kita tidak perlu mengikutinya. Sebab, fatwa adalah nasihat, dan nasihat yang tidak berdasar atas dalil yang syar’i, atau yang jelas-jelas menentangnya tentu tidak perlu kita gubris.

Selain kenyataan bahwa demokrasi tidak pernah ada contohnya dalam agama yang sempurna ini, keburukan-keburukan dari sistem ini sudah bukan merupakan rahasia lagi, diantaranya:

1. memecah belah umat.

Hal ini sudah menjadi kelaziman, di mana tiap muslim membentuk partai-partai sendiri, sangat fanatik akan golongannya, bahkan saling menyalahkan antar partai yang satu dengan yang lain. Kalau pun tidak saling menjelekkan, maka mendirikan partai itu sendiri telah membuka pintu perpecahan. Padahal, ada sebuah kaidah yang cukup populer: “Menjauhi mafsadat lebih utama daripada mencari manfaat”

2. menjelekkan pemerintah (pemimpin)

Sangat umum kita temukan dalam kampanye partai-partai akhir-akhir ini, mereka menjelek-jelekkan pemerintah tanpa rasa malu sedikit pun. Sangat banyak dalil-dalil syar’i yang melarang umat muslim menjelekkan pemimpin mereka meskipun pemimpin mereka orang yang dzalim, pemimpin mereka membenci mereka dan mereka pun membenci sang pemimpin tersebut.

3. mengotori lingkungan

Hal ini bisa kita lihat sendiri di lingkungan kita masing-masing

4. membawa kepada maksiat

Yaitu dengan menyajikan tontonan-tontonan yang sangat jauh dari Islam, biduanita-biduanita yang menyanyi dan menari di atas panggung, misalnya. Padahal, tidak jarang mereka yang melakukan hal tersebut adalah partai yang mengaku ingin menegakkan syariat Islam (!)

Banyak lagi keburukan-keburukan dari demokrasi ini, terutama ketika mendekati pesta puncaknya.

Yang juga membuat kita selayaknya sedih, pengusung sistem ini tidak sedikit dari golongan saudara-saudara kita yang sering menyampaikan kebencian mereka kepada negara-negara kuffar dan memperingatkan kita dari perang pemikiran yang mereka lancarkan. Tidakkah mereka sadar bahwa demokrasi ini juga salah satu bentuk perang pemikiran untuk menyesatkan orang-orang muslim?

Sadarlah wahai saudaraku, bahwa tidak akan baik umat yang datang kemudian kecuali dengan apa yang membuat baik umat yang terdahulu.

Wallahua’lam


Responses

  1. di tempatku anak HT lagi gencar-gencarnya penolakan demokrasi, walaupun anak-anak LDKnya malah menganjurkan dengan sangat untuk ikut ndemokrasi.

    kita mah berlepas diri aja ya…

  2. posting ini maksute menginformasikan tentang demokrasi yang selama ini(palagi dalam pelajaran KWn) kita agung-agungkan
    emang sikap yang paling bener adalah menolak tapi nggak kayak HT(gitu katanya Ustadz Mudrika). Jadi, nggolput tapi jangan sampek njelek-njelekin pemimpin apalagi kalok udah turun ke jalan.
    belom lama ini da ormas ndemo bilang mauk golput kalok ahmadiyah nggak dibubarin
    kalok mauk golput ya golput ajah, ngapain repoit-repot demo gitu
    makasih linknya, mas abrari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: