Oleh: bloksaya | Mei 9, 2009

Sebuah kritik

Telah hadir kepada penulis sebuah buletin Jumat keluaran MBM (Masjid Baitul Maal) berjudul “Hukum mengucapkan sayyidina dalam tasyahud”. Buletin ini, meskipun hanya terdiri dari empat halaman seperti lazimnya sebuah buletin Jumat, namun telah membuat penulis cukup terguncang dengan banyaknya syubhat di hampir setiap paragrafnya. Buletin tersebut berusaha menggabungkan berbagai pemahaman dari berbagai sumber, baik yang tsiqoh maupun tidak, untuk kemudian mengambil kesimpulan sesuai dengan logika dan perasaan mereka. Tulisan ini adalah tulisan pertama dari entah berapa tulisan yang akan penulis buat, mengingat sebagian syubhat yang ada dalam tulisan tersebut benar-benar “luar biasa” sehingga perlu dilakukan suatu telaah lagi untuk menjawab syubhat tersebut secara ilmiah. Tulisan pertama ini bahkan belum akan menyentuh esensi dari buletin tersebut yaitu tentang hukum tambahan sayyidina dalam sholawat.

Semoga Alloh memberi kemudahan dan hidayah sehingga penulis dapat membuat tulisan yang murni untuk memberi nasihat tanpa terjerumus jebakan syaithon untuk berbantah akan hal yang tidak ada manfaatnya.

(Penulis banyak mengambil faidah dari tulisan Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi berjudul “Begitukah Cara Mencintai Nabi?!” yang dimuat dalam majalah al-Furqon no. 89, edisi 08 tahun ke-8 1430/2009)

Masalah Pertama: Aqidah mengenai penciptaan makhluk

Paragraf pertama buletin tersebut berbunyi:

Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang paling mulia di antara para nabi Alloh yang lain. Beliau adalah makhluq yang pertama kali diciptakan Alloh dan karena keberadaannyalah semua alam semesta ini diciptakan Alloh (ibnu Taimiyyah, al Fatawa, juz 11 hal 69)

Sejujurnya, saya belum memiliki atau pernah meminjam al Fatawa-nya ibnu Taimiyyah (saya agak bingung, yang dimaksud dengan al-Fatawa yang disebutkan oleh penulis buletin tersebut apakah Majmu’ Fatawa ataukah kitab lain? Adakah pembaca yang tahu?) sehingga saya belum tahu apakah benar kalimat yang sungguh jauh dari kebenaran tersebut layak disandarkan kepada beliau. Kalau pun benar, maka ucapan beliau tersebut tidak bisa kita jadikan hujjah karena kalimat tersebut berlandaskan pada dua “hadits” populer yang bahkan tidak bisa disebut hadits (dan jika memang benar ibnu Taimiyyah mengatakan hal yang seperti itu, semoga Alloh mengampuni beliau. Tapi sampai saat ini saya belum memercayai tuduhan tersebut karena memang penisbatan ucapan tersebut agak membingungkan, selain karena kitab yang disebutkan tidak jelas, juga tidak disebutkan landasan beliau(ibnu Taimiyyah, pen) dalam mengatakan hal tersebut). “Hadits” tersebut yaitu:

1. Sebuah hadits MAUDHU’ (palsu) yang berbunyi:

Seandainya bukan karenamu (Muhammad), Aku tidak akan menciptakan makhluq

Ibnu Taimiyyah sendiri berkomentar tentang “hadits” ini:

Ucapan ini bukanlah hadits Nabi SAW, baik dari jalur yang shohih maupun lemah, tidak dinukil oleh seorang pun ahli hadits, baik dari Nabi SAW atau dari sahabat. Bahkan ucapan ini tidak diketahui siapa yang mengucapkannya” (majmu’ fatawa: 11/96)

dan komentar Syaikhul Islam tersebut dengan sendirinya membantah penyandaran paragraf pertama buletin Jumat tersebut kepada beliau.

Matan hadits ini pun kacau, karena bertentangan dengan QS. Adz-Dzariyat:56:

Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku

Tidak mungkin suatu hadits bertentangan dengan al Qur’an. Apakah mereka berpikir bahwa Nabi berdusta atas nama Alloh? Celakalah orang yang berpikir demikian. Yang ada, manusia yang dengan hawa nafsunya mengada-adakan suatu ucapan kemudian menisbatkan ucapan tersebut kepada Nabi. Na’udzubillahi min dzalik

2. Sebuah hadits yang TIDAK ADA ASALNYA (alias tidak ada jalur periwayatannya) yang berbunyi:

Makhluk yang pertama kali diciptakan adalah cahaya Nabimu wahai Jabir!

“Hadits” ini sangat populer di kalangan orang-orang tasawwuf. Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa hadits ini adalah dusta menurut kesepakatan ahli hadits (lihat Majmu’ Fatawa: 18/367). Bahkan, para tokoh tasawwuf yang meneliti perkataan ini pun mengatakan bahwa hadits ini palsu. Penegasan Syaikhul Islam ini sekali lagi menguatkan hipotesis bahwa paragraf pertama buletin tersebut tidak layak disandarkan kepada beliau.

KESIMPULAN

Kini, telah jelas bahwa bahkan paragraf pertama buletin tersebut pun penuh dengan keanehan, mengingat bahwa buletin tersebut dikeluarkan oleh suatu organisasi yang mengaku berada di jalan sunnah, tetapi kenyataannya mereka malah memulai buletin mereka dengan perkataan orang-orang sufi yang begitu jauh dari atsar yang shohih. Bahkan, mereka menisbatkan ucapan tersebut kepada orang yang tidak tepat.

Semoga Alloh mengampuni saya dan mereka serta memberi cahaya ilmu kepada kita sehingga pembaca yang telah membaca buletin tersebut terselamatkan dari remang-remangnya syubhat buletin tersebut.

Notes:Waspadalah dengan sebuah blog yang tidak sengaja teman penulis temukan saat sedang mencari tahu tentang ibnu Taimiyyah. Blog tersebut (sengaja tidak saya sebutkan) teratasnamakan “Mas Sastro”. Entah siapa manusia yang satu ini, yang jelas dia banyak menghujat ibnu Taimiyyah berdasarkan hawa nafsunya. Intinya, ibnu Taimiyyah adalah ulama ahlussunnah. Kalaupun beliau salah, itu adalah suatu kewajaran karena beliau, bagaimana pun, hanyalah manusia biasa. Tidak layak bagi manusia, apalagi yang tidak memiliki dasar keilmuan, mencela seseorang dengan level mujtahid seperti beliau.

Responses

  1. Shadaqta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: