Oleh: bloksaya | Juni 29, 2009

beginilah UTS

Alhamdulillah, UTS semester genap telah selesai. Semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi kita dalam UTS kali ini.

UTS kali ini tidak jauh berbeda dari ujian-ujian lainnya di STAN yang pernah saya ikuti. Seperti ujian-ujian sebelumnya, UTS kali ini tidak lepas dari tekanan, kepanikan, banjir air mata, demam, muntah, diare, pingsan, serta tragedi-tragedi lainnya. Meskipun menurut saya tindakan mereka itu (menangis, pingsan, dsb.) agak berlebihan, tapi tampaknya hal ini sudah dianggap wajar. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa setiap ujian di kampus kami tercinta adalah pertaruhan atas kelanjutan pendidikan kami di sini. Pertaruhan antara mahasiswa dan lembaga yang seringkali menempatkan mahasiswa dalam posisi tak mengenakkan. Dalam hal ini, dosen pun terkadang harus memakan buah simalakama (buah apaan sih ini?) dalam menghadapi absolutisme kekuasaan lembaga yang mengharuskan tidak sedikit dari dosen untuk mematikan sisi kemanusiaan mereka.

Bayangkan saja, mahasiswa dituntut memiliki IPK minimal 2,75 untuk setiap tahun (dua semester) agar dapat bertahan. Selain itu, untuk setiap semesternya dipatok IP minimal 2,4. Memang bukan nilai yang terlalu tinggi. Masalahnya, apa yang mahasiswa terima dari tiap dosen mungkin berbeda, namun soal yang diberikan sama untuk semua kelas dengan level soal yang tidak jarang melebihi kapasitas mahasiswa normal (meskipun alhamdulillah selama ini Alloh selalu menolong saya). Ketika nilai telah keluar dan ternyata hasilnya kurang dari harapan lembaga, saat inilah biasanya dosen mengalami pilihan pelik antara mempertahankan kemanusiaan mereka atau profesionalitas di hadapan lembaga.

Tidak jarang juga masalah yang dialami mahasiswa terjadi karena faktor-faktor yang memang mutlak berada di tangan Alloh. Karenanya, doa adalah satu-satunya senjata yang bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini. Tidak heran jika masjid-masjid menjadi penuh sesak selama ujian. Hal ini merupakan hal yang baik dilihat dari satu sisi. Di sisi lain, akan sangat disayangkan jika ketaatan seperti sholat berjamaah hanya dilakukan ketika terhimpit masalah.

Faltor-faktor lain itu banyak contohnya. Sakit, kalkulator tiba-tiba rusak, tinta pena habis di saat yang kurang tepat, salah jadwal, dan berbagai hal lainnya. Misalnya saja sebuah peristiwa yang membangkitkan rasa iba yang menimpa mahasiswi teman sekelas saya. Dia terpaksa tidak mengikuti ujian Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (selanjutnya disebut KUP) karena kesalahan jadwal. Dia mengira bahwa ujian dimulai pukul 12.30, tetapi ternyaa ujian dimulai dua jam lebih awal (memang jadwal ujian tidak selalu sama setiap harinya). Setelah ketua kelas mengusahakan agar dia bisa mengikuti ujian susulan, lagi-lagi masalah birokrasi menjadi halangan antara harapan dan kenyataan (sejatinya istilah bitokrasi merujuk pada pengaturan untuk organisasi yang sangat besar, misalnya negara. Namun tampaknya kata ini kini telah mengalami perluasan makna, sehingga hal-hal yang berkenaan dengan sistem instansi apa pun disebut birokrasi. Umumnya kata ini berkonotasi negatif). Mahasiswi tersebut diminta membuat surat permohonan kepada Direktur STAN. Tentu saja surat itu harus melalui tahapan rumit yang entah apa agar bisa ‘lulus sensor’. Kesalahan sekecil apa pun akan membuat surat tersebut dikembalikan dan si mahasiswi tentu harus mengulang membuatnya, sampai benar-benar dianggap memenuhi kriteria oleh pihak lembaga.

Setelah surat itu ‘lulus sensor’, bukan berarti masalah selesai. Dia masih harus mendapat izin dari Direktur STAN untuk mengikuti ujian susulan. Masalahnya, dalam undang-undang jelas tertulis bahwa yang boleh mengikuti ujian susulan adalah mereka yang sakit (menurut kriteria tertentu, misalnya harus rawat inap) atau melahirkan (tentunya hanya berlaku untuk mahasiswi D-IV). Jika kemudian si mahasiswi tidak mendapat izin dari direktur STAN, dia tidak akan mendapat nilai UTS. Konsekuensinya, dia tidak akan mendapat nilai untuk mata kuliah KUP smeseter ini. Penjelasannya sederhana, tidak ada nilai + X dibagi 2 sama dengan tidak ada nilai, dengan X adalah nilai UAS. Tidak memiliki nilai untuk mata kuliah khusus spesialisasi tentu berakibat DO (nilai minimal untuk mata kuliah jenis ini adalah D).

Jika (semoga) Direktur STAN mengizinkan si mahasiswi mengikuti ujian susulan, dia masih harus menghadapi soal ujian susulan yang biasanya memiliki bobot soal berbeda dan/atau metode penilaian berbeda dari dosen jika dibanding ujian biasa. Sampai saat ini, belum jelas bgaimana kelanjutan nasib teman saya itu. Mari kita doakan semoga Alloh memudahkan jalannya.

Dari uraian singkat saya mengenai ujian-ujian di STAN, kita bisa mengambil beberapa simpulan, antara lain:

– Manusia kini telah melupakan hakikat manusia. Manusia lebih cenderung memberikan penilaian baik buruknya sesuatu berdasarkan angka-angka. Mereka yang ber-IP kurang, dengan alasan apa pun, dianggap kurang berhasil dalam perkuliahan. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikan. Orang yang sukses dinilai dengan banyaknya harta yang dimiliki, kebenaran dinilai dengan banyaknya pengikut, dan masih banyak lagi.

– Manusia kini lebih memilih mengikuti birokrasi buatan manusia yang ruwet ketimbang berbuat ihsan yang telah diajarkan Islam. Yang penting segala tata cara sesuai peraturan, tidak peduli jika pada akhirnya ada manusia lain yang dirugikan.

Dua simpulan di atas menghasilkan sebuah simpulan utama: Manusia tidak lagi memanusiakan manusia.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca

Baca juga: “UTS, mission completed?”, pengalaman pertama saya mengikuti ujian di STAN


Responses

  1. ngeri sekali.

  2. hahaha… bagaimanapun juga, bibi*nya mbak tasya…

  3. […] beginilah¬†UTS […]

  4. Tempatku teror DO gak begitu gencar.
    Gua aja udah selesai UWAS.
    Hampir gak bisa ikutan gara-gara penggantian alat laboratorium.

  5. di sini beda brar
    kata DO adalah makanan kami sehari-hari
    kata-kata ini sering jadi “senjata”, mulai dari dosen, kakak tingkat (terutama saat ospek), bahkan satpam

  6. pada ae sa. . .neng nggon ku malah esih diospek, tekanan bukan saja datang saat kuliah maupun ujian tapi dari senior juga

  7. hmm.. bagi yg penasaran bgaimana kelanjutan nasib si mahasiswi, kini dia, dengan penuh menyesal saya katakan, telah resmi dropped out dari STAN. Ternyata dia tidak bisa mengikuti ujian sehingga dia tidak memiliki nilai KUP.

  8. […] Ujian kali ini tidak jauh berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya (baca tulisan saya yang terdahulu di sini dan di […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: