Oleh: bloksaya | November 5, 2009

mati lampu

posting ini hanya sekadar iseng.

 

mohon maaf kepada pihak-pihak yang secara sengaja ataupun tidak tercatut dalam posting tidak berguna ini.

Sore tadi, sebuah kejadian kurang mengenakkan terjadi. Tentu pembaca sudah bisa menebak karena sudah saya sebutkan di judul tulisan ini. Untungnya saya sudah selesai menanak nasi (bahkan, mati lampu tepat terjadi beberapa saat setelah beras yang saya masak matang). Seandainya belum, mungkin saya akan kerepotan makan malam tadi.

Beberapa saat menunggu lampu kambali menyala (biasanya mati lampu di kosan saya terjadi karena banyaknya daya yang digunakan sehingga menyebabkan si sekering turun), tetapi tidak ada yang terjadi. Usut punya usut, ternyata masjid Asy-Syuhada juga mengalami fenomena serupa.

Seketika, manusia-manusia seperkosan mengeluarkan ekspresi ketidaksenangan mereka. Segera kami berlomba mandi karena dikhawatirkan air akan habis (dan telah terbukti). Sebagian memutuskan untuk gitar-gitaran yang tidak bisa dipungkiri begitu mengganggu, sedikit atau banyak (bahkan ada salah satu manusia yang pindah kosan karena masalah gitar-gitaran ini. Saya sendiri biasanya tidak merasa terganggu karena biasanya saya sibuk di depan monitor. Masalahnya, mati lampu membuat kesibukan di depan monitor menjadi percuma)

Ketika maghrib tiba, saya segera berangkat ke Masjid Baitul Maal (mengapa saya tidak sholat di Asy-syuhada? Baca tulisan saya yang terdahulu di sini). Dalam perjalanan ke MBM, saya baru sadar bahwa mati lampu yang dialami oleh kosan saya tidak serta merta dialami oleh semua bangunan di lingkungan ceger. Beberapa tempat hampir bisa saya pastikan tidak menggunakan generator set atau sejenisnya, namun terang benderang. Tentu saja hal ini membuat perasaan yang agak tidak nyaman di hati.

Singkat cerita, saya sudah selesai sholat Isya’ ketika ide gila itu muncul. Sebenarnya, ide tersebut sederhana dan sangat manusiawi. Saya memutuskan untuk membeli lilin. Kemudian, pikiran lain muncul. Untuk apa bergelap-gelapan di kamar jika bisa mampir ke warnet? Maka, sebuah rencana yang (saya kira) begitu teguh terhampar di pikiran saya.

Pertama, saya akan membeli lilin dan korek api. Hanya saja, rencana sederhana ini tampaknya perlu sedikit dipoles agar lebih menyenangkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli lilin dan korek api di Harmoni, sebuah toko swalayan yang cukup besar jika dibandingkan dengan Indomaret, Alfamidi, dan Ahad Mart. Selain itu, jaraknya pun lebih jauh dibandingkan dengan ketiga toko tersebut dari kosan saya. Saya pikir pasti akan menyenangkan. Lagipula, jika diingat lagi, saya belum ke Harmoni sejak kembali ke Ceger.

Ide gila lain lagi muncul. Sepertinya berjalan kaki akan lebih menyenangkan. Akhirnya, saya berjalan kaki ke Harmoni alih-alih mengendarai sepeda.

Sesampai di sana, saya segera mencoba mencari lilin. Namun, yang saya temukan hanya lilin ulang tahun. Kemudian, saya naik ke lantai dua. Alih-alih lilin, saya malah menemukan yoyo yang selama ini teman saya (sebut saja Adi) cari tanpa hasil. Atas rekomendasi seorang teman (sebut saja Hakiki) melalui pesan singkat, saya turun ke lantai satu lagi dan segera menuju ke bagian paling barat. Ternyata, itu tempat lilin ulang tahun yang tadi. Tampaknya lilin yang biasa sudah habis, begitu juga korek api. Akhirnya, saya pulang dengan tangan hampa, sampai-sampai tiga orang teman sekelas di tingkat satu dulu yang tidak sengaja berpapasan dengan saya terheran-heran karena tidak ada tanda-tanda belanjaan apa pun di tangan saya (bukannya hal seperti itu biasa ya?).

Meskipun sedikit menyesal dengan ide saya yang ternyata memang gila, saya tidak menyerah. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli lilin, korek api, dan satu target tambahan, air mineral, berhubung galon saya belum saya isi ulang, di Indomaret yang jaraknya mungkin tidak lebih dari seratu meter dari kosan (bandingkan dengan Harmoni yang mungkin berjarak lima ratus meter dari kosan saya). Rencana yang berjalan konyol. Meskipun berhasil mendapatkan air mineral dan korek api seharga empat ribu rupiah (!), saya gagal mendapatkan lilin. Akhirnya, saya segera pulang dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarian mencari lilin. Toh masih ada di kamar (hah? jadi dari tadi nyari lilin buat apa sih?).

Selanjutnya, rencana kedua segera saya realisasikan, yaitu pergi ke warnet. Dengan sepeda saya (pengalaman jalan kaki sebelumnya tlah memberi saya pelajaran), lagi-lagi saya memilih untuk pergi ke warnet yang agak jauh dari kosan, padahal sebenarnya di depan kosan ada Unius. Ini tidak lepas dari pertimbangan tarif.

Sesampai di sana, masnya bilang

Penuh, Pak, eh, Mas!

Hah? tidak mungkin! Tapi saya tidak menyerah. Segera saya membanting setir ke Unius, warnet yang berada di depan kosan. Ternyata kasusnya sama, penuh. Tidak! Seolah-olah pergi ke warnet telah menjadi satu-satunya tujuan saya tadi sehingga saya nekat ke 18 (delapan belas), sebuah warnet yang agak jauh. Sesampai di sana, ternyata warnet tersebut juga menjadi korban pemadaman listrik oleh PLN!

Dengan semangat yang menggebu-gebu, saya memutuskan untuk mencari warnet lain. Kukayuh sepedaku sampai jauh ke arah barat, tapi tidak ada warnet. Saya tahu bahwa tidak ada gunanya melanjutkan pencarian. Di ujung sana, ada sejenis pasar tradisional, tempat yang hampir mustahil bisa ditemukan warnet. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Namun, di tengah perjalanan, gerbang Pondok Safari begitu menggoda. Sebagai perumahan yang bisa dibilang bagus, tentu ada warnet di sana (iya kan?). Lagi-lagi dengan nekat, saya memasuki gerbang itu. Tebak apa yang terjadi selanjutnya? Saya tersesat!

Setelah berputar-putar di perumahan itu (kenapa ya semua perumahan menganut bentuk jalan yang menyerupai labirin? Belokan-belokan buntu, kesan sama dari setiap jalan, ditambah lagi semuanya terjadi di malam hari) selama lebih kurang sepuluh menit yang terasa seperti berjam-jam, akhirnya saya berhasil keluar melalui gerbang tempat saya masuk (artinya, saya benar-benar hanya berputar-putar di tempat yang sama).

Masih belum menyerah, saya kembali ke Unius. Ternyata masih penuh. Belum menyerah juga, saya kembali ke warnet yang pertama saya datangi. Ada yang kosong! Akhirnya saya berhasil internetan dan menulis posting tidak berguna ini. Namun, saya sekarang menyesal. Saya merasa sangat mengantuk. Mungkin lebih baik tadi saya tidur saja di kosan…

Pelajaran yang bisa kita ambil, sebaiknya lakukan berbagai kegiatan secara spontan saja. Rencana hanya akan merepotkan (sering kali, tapi tentu tidak selalu).


Responses

  1. koment saia: kepanjangan

  2. kpanjangan y?🙂

  3. ho oh

    Ngapain nyari lilin kalo mau ke warnet??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: