Oleh: bloksaya | November 28, 2009

Mahasiswa: motor perubahan

Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya pembaca mempersiapkan diri.

Mungkin tulisan ini bisa membuat tersinggung sebagian manusia, meskipun penulis sebenarnya sama sekali tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Hanya saja, terkadang kebenaran itu sedikit menyakitkan.

Sejarah telah mencatat berbagai perubahan yang terjadi pada bangsa ini diawali oleh para pemuda, khususnya mahasiswa. Tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa sedikit banyak berperan dalam perjuangan kemerdekaan negara ini. Bahkan, seperti cerita yang pernah saya dengar saat ospek di Universitas Gadjah Mada, para mahasiswa belajar sambil memegang senjata, bersiap siaga melawan penjajah. Sumpah pemuda juga dianggap memiliki andil membangkitkan semangat bangsa ini.

Hingga kini, euforia masa-masa awal perjaungan bangsa tetap terasa di dada para mahasiswa. Dengan penuh percaya diri, kita dengar banyak istilah yang begitu “wah” digaungkan sebagai pelengkap kata mahasiswa, utamanya ketika para mahasiswa baru dihadapkan pada ospek, tradisi tahunan (seharusnya tradisi tidak berulang dalam kurun waktu tertentu) yang tampaknya sudah dianggap wajib mulai dari tingkat universitas, fakultas, jurusan, program studi, himpunan mahasiswa, bahkan kosan. Coba ingat apa yang para senior katakan mengenai mahasiswa. Dengan penuh keyakinan (entah itu ekspresi asli, ekspresi yang dibuat-buat, ekspresi asli yang dibuat-buat, atau ekspresi yang dibuat-buat yang lama-kelamaan menjadi asli), mereka berkata:

Mahasiswa adalah motor perubahan, atau
Mahasiwa adalah agent of change,

dan seabreg gelar lainnya yang memiliki makna hampir sama.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Mereka mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan dan semacamnya, tetapi mereka tampaknya lupa bahwa kata perubahan merupakan pedang bermata dua. Perubahan bisa ke arah positif, bisa pula negatif. Jadi, ke mana arah perubahan yang mereka agung-agungkan itu? Kenapa mereka begitu bangga dengan gelar-gelar yang masih belum jelas tersebut? Begitulah idealisme mereka. Idealisme yang terlalu banyak dijejali semangat tanpa dasar ilmu yang justru akan menghasilkan keadaan yang jauh dari ideal.

Kenyataannya, mahasiswa belum mampu membawa umat ini ke arah yang lebih baik. Perhatikan saja teman-teman kuliah Anda. Kebanyakan mereka sibuk pacaran, pergi ke mal-mal, menghambur-hamburkan uang orang tua mereka, dan kesenangan duniawi lainnya. Mereka lupa bahwa dunia adalah kesenangan yang menipu.

Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang hobi bentrok dengan mahasiswa lain. Alasannya sederhana saja. Mereka memiliki cinta yang berlebihan kepada kelompoknya sendiri. Sebagian mereka memiliki niat yang baik, misalnya melindungi teman seperkampusannya. Di sini dapat kita lihat bahwa niat yang baik saja tidak cukup. Betapa banyak manusia yang menginginkan kebaikan namun tidak mampu mencapainya.

Kelompok yang lain, lebih senang memprotes apa pun kebijakan pemerintah (mereka bahkan memprotes rencana yang baru berupa ide, belum direalisasikan, mana mungkin ada hasil? Bukankah protes seharusnya kepada hasil final yang dianggap buruk? Mengapa mereka tidak mau menunggu sebentar saja?) Kelompok ini yang paling banyak diidentikkan dengan mahasiswa. Bahkan saya pernah melihat tulisan luar biasa dalam spanduk (tepatnya sebuah karton) yang mereka bawa saat berdemonstrasi:

Mahasiswa, oposisi abadi pemerintah (atau kalimat yang semakna)

Bagaimana bisa membangun umat ini jika tidak bekerja sama dengan pemerintah? Namanya saja pemerintah, artinya yang memberi perintah atau yang memimpin pemerintahan. Seolah-olah lamanya mereka mengenyam pendidikan tidak bisa memberikan mereka pengetahuan mengenai arti kata berimbuhan. Tidakkah mereka malu? Di mana rasa tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa? Apa gunanya orang tua mereka menyekolahkan mereka selama ini?

Padahal jika kita mau melihat lebih dekat, kita akan menemukan bahwa madhorot (kerugian) akibat demonstrasi itu lebih besar dari manfaatnya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa ada manfaat dari demonstrasi, tapi madhorotnya jauh lebih besar. Masih jelas dalam benak kita kejadian tahun ’98. Betapa banyak darah tertumpah saat itu (Tidakkah mereka sadar harga darah seorang muslim?). Penjarahan, perbuatan tidak seharusnya kepada ras tertentu, semua itu bukan pemandangan yang menyenangkan bagi seorang bocah berumur delapan tahun.

Ironisnya, kejadian menjijikkan semacam itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para mahasiswa. Mereka menganggap diri mereka berhasil menjatuhkan pemerintahan yang dianggap zholim saat itu. Mereka yang tewas dianggap pahlawan. Halo? Mereka tewas dengan cara yang buruk. Tentu saja teman-teman mereka bangga kepada para korban karena memang bukan mereka yang tewas. Seharusnya mereka meminta maaf kepada bangsa ini.

Saya secara pribadi menganggap bahwa kejadian saat itu merupakan kegagalan terbesar kita sebagai mahasiswa untuk membuktikan diri. Mereka lupa tentang kewajiban taat kepada pemimpin. Jika pemimpin zholim, kita harus sabar. Seakan-akan mereka meragukan kekuatan Robb mereka yang di atas langit. Tidakkah kita seharusnya malu?

Memang dalam bersabar perlu juga (bahkan harus) berusaha (dengan mengambil sebab syar’i). Tentu wajib menasihati pemimpin jika mereka berlaku zholim. Akan tetapi, harus ada adab yang dipenuhi untuk menasihati pemimpin, antara lain dengan mengajaknya berdua saja, memegang tangannya, nasihati dengan penuh kelembutan. Tidak sanggup? Ya sudah! Kewajiban itu dibebankan sesuai kemampuan. Kenapa harus takalluf (ngoyo)? Bukankah Alloh tidak akan membebani manusia kecuali dengan apa yang disanggupinya? Sekali lagi, ini menunjukkan lemahnya mental dan kekanak-kanakannya kita. Seolah-olah kita selama ini hanya berkembang secara fisik tanpa dibarengi kematangan psikis.

Bagaimana pun, masih ada segelintir mahasiswa yang membuat saya kagum. Mereka begitu giat menuntut ilmu, baik yang fardhu ‘ain (ilmu agama) maupun fardhu kifayah (ilmu dunia yang bisa mendatangkan manfaat bagi umat ini). Mereka menemukan inovasi-inovasi luar biasa demi kemajuan umat ini (tentu yang saya maksud inovasi duniawi, misalnya rumah tahan gempa, pori-pori yang berguna sebagai reseptor air hujan sehingga persediaan air tanah tercukupi dan banjir bisa dihindari, dan masih banyak lagi. Inovasi dalam agama a.k.a bid’ah, di sisi lain, tidak akan menghasilkan kebaikan. Bahkan karena kesibukan mereka memikirkan inovasi dalam agama, mereka tidak punya waktu memikirkan inovasi dalam hal dunia. Itulah (salah satu) sebab umat Islam banyak tertinggal dalam teknologi). Mereka berani memegang kebenaran meskipun lingkungan mereka telah penuh kebatilan. Menjadi terasing karena tidak mengikuti tren rusak zaman ini tidak menggentarkan mereka. Kita memohon kepada Alloh mudah-mudahan dijadikan-Nya umat ini menjadi umat yang baik. Sesungguhnya hal itu mudah bagi-Nya. Dan kewajiban kita adalah memenuhi hak-hak-Nya.

Maka, saya mengajak segenap mahasiswa untuk kembali kepada jalur yang seharusnya kita lalui. Berhentilah berpikir naif. Ingatlah bahwa apa yang mungkin kita pikir merupakan sebuah sikap pesimistis atau apatis bisa jadi adalah sikap yang realistis. Kita tidak harus selalu maju atau mundur, kita bisa juga menunggu. Dan saat menunggu itulah, kita justru bisa berpikir lebih rasional.

Kehati-hatian adalah sifat dari ketakwaan. Takwa itu seperti berjalan di suatu jalan yang penuh duri, maka yang kita lakukan adalah melangkah perlahan-lahan, penuh kehati-hatian, sambil berusaha menyingkirkan duri-duri itu dari jalan yang sedang kita lalui. Tidak selamanya lebih cepat itu lebih baik.

Mudah-mudahan Robb kita memberikan kemudahan dan pertolongan-Nya.


Responses

  1. Ferdi. . .Aq tlah mmbca dngn seksma . . .
    Hmmmm. . . .Aminn
    menjdilah orang yg smestnya, bwt ap qt dlhrkan,bwt ap qt dsekolahkn, bwt ap orang tua qt bkerja keras utk menghdupi qt. . . . Ya aq renungkan lg. . .
    Allah swt. Snantiasa mmbrkan hdayahnya,..

  2. We are ‘Mahasiswa’ :
    Agent of Change
    Iron Stock
    Guardian of Value

    Memang sangatlah tidak berguna memprotes pemerintah tanpa kajian yang jelas. Diskusi dan ide tentu lebih mereka harapkan.
    Moga-moga kita para mahasiswa bisa ingat akan hal ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: