Oleh: bloksaya | November 28, 2009

Nilai versus ilmu

Tadi ketika saya dan teman saya, sebut saja Hakiki, pulang dari Annashr (tadi di sini merujuk pada tadi sebelum saya membuat tulisan ini, bukan merujuk pada tadi sebelum saya mem-posting tulisan ini), beberapa manusia yang tampaknya adalah mahasiswa STAN (saya menagmbil kesimpulan bahwa mereka adalah mahasiswa STAN karena penampilan mereka serta lokasi eksistensi mereka saat kejadian ini berlangsung, yaitu di depan gedung I) sedang berdiskusi tentang suatu hal yang terdengar sangat idealis (atau naif, keduanya memiliki batas yang tipis), yaitu mengenai orientasi kuliah di STAN, apakah menuntut ilmu atau mencari nilai. Mereka tampak (tepatnya terdengar) sangat serius membahas masalah ini, sampai-sampai rela melakukannya di tempat yang sebenarnya kurang layak, di jalan di depan gedung I (maksud saya tidak layak, di tempat itu seseorang atau banyak orang harus berdiri jika ingin mengobrol. Belum maksud juga? Maksud saya, orang yang rela berdiri di tengah kegelapan untuk membahas sesuatu hal tentu menganggap diskusi mereka tersebut adalah sesuatu yang penting, atau dengan kata lain, mereka serius membicarakan hal tersebut. Sudah paham, kan?).

Obrolan mereka tersebut tentu membuat saya tertawa dalam hati (tidak juga. Saya tidak tertawa dalam hati. Saya benar-benar tertawa secara lisan). Secara pribadi, saya jawab secara tegas bahwa perkuliahan saya di STAN adalah berorientasi kepada nilai, bukan ilmu (sekali lagi, maksud saya kuliah secara formal. Di luar perkuliahan secara formal, tentu saya bisa mendapat banyak ilmu). Mengapa saya berkata begitu? Mari ikuti penjelasan saya berikut.

Pertama, mengenai ilmu. Kita tahu bahwa ilmu yang fardhu ‘ain itu adalah ilmu tentang agama, sedangkan ilmu duniawi yang bermanfaat bagi manusia hukumnya adalah fardhu kifayah. Jadi, jika seseorang telah menguasai kedokteran misalnya, gugurlah kewajiban manusia lain mempelajarinya, meskipun jika banyak yang menguasai kedokteran tentu akan lebih baik (jadi, manfaat tambahan dari banyaknya manusia yang menguasai kedokteran tersebut bukan kewajiban). Atau dengan kata lain, jika seseorang tidak menguasai ilmu kedokteran, dia tidak berdosa.

Kembali ke topik awal kita. Mengenai apa yang saya pelajari di STAN, khususnya mengenai ilmu pajak (karena saya masuk di spesialisasi pajak), sebenarnya tidak masuk dalam difinisi ilmu yang berguna (segenap mahasiswa dan semua pihak yang berhubungan dengan pajak, semoga Anda semua tidak tersinggung dengan kalimat saya). Alasannya, yang paling utama, karena memang secara syariat Islam, pajak yang kita kenal saat ini memang tidak dikenal. Pajak yang ada di zaman Rosululloh dikhususkan kepada non-muslim untuk melindungi mereka (terkesan tidak adil? Sekali lagi, Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu mengenai keadilan) yang disebut jizyah. Jadi, tidak seharusnya seorang muslim dikenai pajak, bahkan salah satu yang dilakukan ‘Isa saat turun lagi di akhir zaman adalah menghapus pajak (Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Tentu kita tidak dibenarkan memberontak kepada pemerintah karena hal ini. Kita memang tidak bisa apa-apa, kita pasti dikenai pajak bahkan jika kita membeli barang di pasar swalayan misalnya, jadi pasrah saja dan berdoa semoga Alloh memberikan jalan lain sebagai pengganti pajak sebagai penyokong “kehidupan” negara ini. Masalah ini (ketergantungan negara kita) pada pajak pernah juga sedikit dikritisi oleh dosen mata kuliah Ekspor-Impor saya).

Kedua, “ilmu” pajak saya sebut bukan suatu ilmu karena sifatnya yang lokal. Jika kita keluar negeri misalnya, kita akan mendapati perpajakan yang berbeda lagi. Perhatikan perbedaanya dengan ilmu kedokteran yang saya contohkan tadi, tentu akan sama (secara umum) di seluruh penjuru bumi. Bahkan, ilmu seperti fisika, seharusnya akan sama dengan ilmu fisika yang dimiliki oleh seorang alien (contoh yang agak ekstrem, tapi memang begitu. Fisika (seharusnya) memiliki sifat universal. Meskipun begitu, karena ini adalah ilmu dari manusia, tentu tidak akan mungkin sempurna, sehingga pengecualian-pengecualian akan tetap ada, dalam banyak hal).

Ketiga, secara pribadi saya memang tidak ingin bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (jadi mengapa saya memilih spesialisasi ini? Ini memang kesalahan saya). Saya lebih tertarik bekerja di Badan Pengawas Keuangan. Bahkan, jika seseorang bekerja di DJP, dia sebenarnya tidak perlu menghapal undang-undang atau memahami secara mendalam mengenai perpajakan. Seorang lulusan STAN tentu akan menjadi tenaga operasional terlebih dahulu, bukan pengambil kebijakan sehingga tidak perlu berdalam-dalam. Undang-undang pun akan selalu berganti sehingga menghapalnya hanya akan memenuhi memori kita, padahal kita tahu, berdasarkan penelitian, hanya nol koma sekian persen otak kita yang bisa kita maksimalkan (ini juga adalah metode saya menghadapi kenyataan ini. Karena memaksimalkan seluruh potensi otak tampaknya sangat sulit, saya berpikir lebih baik untuk bersikap selektif dalam mengisi memori kita yang hanya nol koma sekian persen dari otak kita itu. Pakai-hapus tampaknya juga adalah metode yang cukup berhasil. Sebenarnya, dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa kita berpikir dengan qolbu. Otak tentu berperan, tapi yang menjadi faktor utama adalah hati. Contohnya begini. Seseorang yang “lemah” otaknya akan berpikir berkali-kali jika akan membunuh, bila qolbunya sehat. Sebaliknya, berapa banyak kita dapati di zaman jahiliyyah orang yang membunuh anak perempuannya sendiri? Apakah otak mereka “lemah”? Tentu tidak. Mereka pandai berdagang, memiliki strategi perang yang hebat, mahir membuat syair, dan hal-hal lain. Mereka melakukan itu karena qolbu mereka yang “salah”). Jadi yang lebih penting adalah bagaimana dia mampu menghadapi Wajib Pajak dengan penuh keramahan.

(ah, laper. Makan dulu yok…)
(alhamdulillah, sampe mana tadi? Yuk lanjut..)

Selain itu, pajak juga bersifat temporer. Pada tahun 1984 terjadi reformasi besar-besaran di bidang perpajakan. Siapa yang bisa menjamin hal serupa tidak akan terjadi lagi? Apalagi ditambah fakta bahwa sistem pajak memang belum mumpuni. Dalam undang-undang perpajakan pun kita temui banyak hal yang janggal (bahkan, UU PBB & BPHTB banyak menggunakan kata-kata yang tidak sesuai EYD. Ini baru secara kata per kata, belum lagi struktur kalimat dan lainnya. Hal ini juga ditemui di undang-undang lain. Coba Anda cek jika tidak percaya (kalo pengen, nggak juga nggak apa-apa)).

Kesimpulannya, pajak bukanlah suatu disiplin ilmu yang bermanfaat (sekali lagi, mohon pembaca tidak tersinggung).

Namun, bukan berarti saya tidak mendapat apa-apa dari kuliah. Sekali lagi, itu adalah dari sudut pandang perkuliahan secara formal. Di luar itu, saya tentu mendapat tidak sedikit faidah. Bagaimana menghadapi berbagai karakter manusia yang berbeda adalah salah satunya. Bertemu dengan menusia dari berbagai asal dan berbagai usia (jangan lupakan para dosen) tentu mengajari saya banyak hal.

Juga, saya jadi memahami betapa sulitnya mengambil kebijakan, apalagi dalam tatanan negara. Jadi, tidak layak bagi kita begitu mudah memprotes kebijakan pemerintah. BBM naik, ribut. Ada apa saja, ribut. Padahal, jika kita mempelajari dasar-dasar makroenomi dan keuangan publik misalnya, kita akan tahu bahwa mengurus negara sebesar ini bukan hal mudah. Ini juga manfaat yang saya dapat di luar perkuliahan formal. Loh, itu baca buku? Iya, tapi kan di buku teks tidak pernah tertulis “Maka, hargailah kebijakan pemerintah” atau kalimat yang semakna. Dosen juga seingat saya tidak pernah (atau mungkin sangat jarang) memberi nasihat semacam itu.

Jadi, jika kita kembalikan ke pertanyaan awal, mencari nilai atau ilmu, maka saya jawab, mencari nilai (lagi, dalam hal perkuliahan formal). Saya juga tidak bisa mengatakan bahwa saya tidak mencari keduanya, nilai atau ilmu, karena kenyataannya saya belajar, mengerjakan tugas, serius saat ujian, dan pengorbanan-pengorbanan lain (memfotokopi misalnya). Mengingat bahwa saya, dari alasan-alasan di atas, tidak mencari ilmu (sekali lagi, secara formal), maka artinya saya mencari nilai, saya sadari atau tidak. Tidak mungkin saya melakukan berbagai pengorbanan tersebut jika saya tidak menginginkan sesuatu. Tentu saja saya berdusta jika saya katakan saya tidak menginginkan apa pun, dilihat dari banyaknya pengorbanan yang saya lakukan.

Jadi, dari penjabaran yang saya tulis, kita bisa mengambil simpulan bahwa saya mencari nilai, bukan ilmu (sekali lagi, dari perkuliahan formal). Logis kan?


Responses

  1. Salah satu manfaat ilmu pajak: dengannya para dosen pajak bisa menafkahi keluarganya🙂

    Hal yang sama juga untuk dosen ilmu-ilmu “abstrak” lainnya.

  2. hmm.. bener juga brar🙂

  3. Emang di pajak ngapain aja?

    Ngapain ngapal Undang2 kalo liat buku bisa dan gak ada tambahan endurance apa2 jika dihapal?

  4. ngapain ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: