Oleh: bloksaya | Januari 29, 2010

STAN Reborn!

stanrebornJika Anda pernah datang ke STAN, apa yang Anda ingat dari tempat tersebut? Bangunan-bangunan tua tidak terawat? Area tanah tidak terurus? AC (baca: a-ce, bukan a-se) yang selalu ditempeli kertas bertuliskan “AC RUSAK”? Yup, it was STAN.

Namun, kenangan akan kebobrokan fisik STAN tersebut kini tinggal sejarah. Setelah sekian lama berada dalam fase keterpurukan secara fisik, kini STAN mulai berbenah. Berbagai perbaikan dimulai, ditambah pembangunan fitur-fitur baru yang terkesan “wah” (fitur-fitur baru ini sekaligus menyisakan pertanyaan di hati kita (kita?), masihkah STAN menyandang status sekolah kedinasan? Akankah kita (kita?) langsung bekerja saat lulus?). Meskipun pembenahan STAN belum rampung 100%, kini kita telah dapat melihat bentuk fisik yang lumayan elegan seperti yang telah lama dipajang di stan.ac.id. Memang penyelesaian proyek pembangunan STAN “sedikit” terlambat dari jadwal.

Beberapa fitur baru yang ditawarkan oleh STAN (beberapa fitur ini pernah dibahas oleh tabloid Warta Kampus, tabloid terbitan BEM STAN yang kurang konsisten dalam frekuensi penerbitan, layaknya Gesit-nya SMP N 1 Metro atau Solusi-nya SMA N 1 Metro serta terlalu banyak menyorot BEM itu sendiri alih-alih perkampusan. Mungkin lebih cocok disebut Warta BEM alih-alih Warta Kampus. Pembaca dapat mengunduh tabloid tersebut di mahasiswastan.com jika berminat, tetapi saya tidak merekomendasikannya. Yang saya maksud fitur baru di sini mungkin tidak semua benar-benar baru, tetapi bisa berupa fitur-fitur yang tadinya tidak ada ketika saya mulai kuliah di sini lebih kurang setahun yang lalu. Fitur-fitur yang saya sebutkan di sini sengaja saya urutkan dari fitur yang letaknya relatif dekat darikosan saya)

1. Pedestrian track.

Seperti namanya (sebenarnya, nama ini adalah nama yang digunakan Warta Kampus. Saya tidak tahu apakah memang ini nama resminya, atau bahkan apakah benda tersebut sebenarnya memiliki nama), fitur ini merupakan sebuah track (terjemahan bebas: jalan) untuk pedestrian (pejalan kaki). Fitur ini membentang dari gerbang Ceger sampai ke kampus, di kiri-kanan jalan utama (Jangan Anda bayangkan bahwa fitur ini benar-benar terbentang di kiri-kanan jalan antara gerbang Ceger dan kampus. Kenyataannya, pedestrian track ini membentang di kiri jalan dari gerbang Ceger sampai mendekati pintu Sarmili, kemudian dari sana berlanjut di sebelah kanan jalan sampai ke kampus. Kalimat seperti ini akan bagus jika digunakan dalam proposal.).

Fitur ini dilengkapi fitur lain, yaitu semacam halte-halte misterius yang telah lama menggelitik hati saya dengan sebuah pertanyaan mengenai benda apa itu sebenarnya. Benda itu berbentuk seperti layaknya sebuah halte, hanya saja minus tempat duduk. Namun, kita tahu bahwa tidak ada dan tampaknya tidak mungkin ada kendaraan umum yang melalui jalur masuk STAN melalui gerbang Ceger. Hipotesis lain, benda itu mungkin berguna untuk menonton sepak bola, tetapi hipotesis ini tidak dapat menjelaskan mengapa benda itu menghadap ke jalan alih-alih ke lapangan juga minusnya bangku. Penjelasan terbaik, seperti dilansir oleh Warta Kampus yang mewawancarai langsung Pak Kuwat, benda itu adalah peneduh bagi pejalan kaki. Fitur yang unik, bukan?

2. Jalan beton “baru”.

Kini, jalur dari gerbang Ceger sampai kampus juga telah selesai dipermak. Bukan lagi jalan paving block seperti dulu, melainkan telah berupa beton (saya tidak yakin apakah benda itu telah memenuhi definisi beton. Yang jelas, renovasi jalan tersebut melibatkan sejenis kolom-kolom. Anggap saja memang jalan beton). Bersepeda di jalur ini sekarang lebih menyenangkan. Jalan di depan STAN juga diperbarui, bahkan kini dibuat dua jalur.

3. La Paz.

Sebenarnya, fitur ini tidak bisa dibilang baru. Yang jelas, fitur ini belum ada (belum selesai) ketika saya baru mulai kuliah. Sejatinya, La Paz adalah nama ibukota Bolivia, negara termiskin di Amerika Selatan karena maraknya praktik korupsi di negara itu. La Paz merupakan ibukota tertinggi di dunia, 3600 m di atas permukaan laut. La Paz sendiri dalam bahasa Spanyol (kalo nggak salah. Apa bahasa Latin ya? Siapa peduli, mirip-mirip kok) berarti kedamaian. Namun, tampaknya nama La Paz di STAN tidak terinspirasi dari kemiskinan, korupsi, ketinggian, atau pun kedamaian.

Fitur ini merupakan sebuah area futsal, dilengkapi pagar kawat tinggi layaknya sebuah penjara. Mungkin karena itu disebut La Paz (tampaknya dari kata lapas alias lembaga pemasyarakatan). Fitur ini merupakan salah satu fitur kebanggaan BEM STAN (bahkan dengan lebaynya, ada tulisan BEM STAN 2008/2009 di bawah tulisan LA PAZ) karena memang merupakan program mereka.

4. Bendungan.

Fitur ini terletak di antara Plasma (Plasa (apa plaza?) Mahasiswa) dan area parkir. Mungkin Anda berpikir, “Loh, bukannya antara Plasma n parkiran tu jalan?” Yup, it was. Kini, jalan itu telah disulap menjadi sebuah lanskap yang sedikit lebih tinggi dari jalan yang sebenarnya, dilengkapi tempat-tempat duduk berbentuk persegi panjang yang sudutnya ditumpulkan (tampaknya karena faktor keamanan) yang masing-masing dilengkapi sebuah konstruksi berbentuk tabung yang menjulang dari tengah tiap-tiap persegi panjang itu. Tadinya, saya kira pada akhir pembangunan tabung-tabung itu akan dilengkapi payung atau peneduh lainnya, tetapi saya salah. Konstruksi tabung itu hingga kini masih tetap menjadi misteri dalam hal fungsi.

Nama bendungan sendiri, tampaknya muncul dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Tampaknya fitur ini disebut bendungan karena salah satu efeknya adalah membendung arus lalu lintas dari Ceger ke Bintaro dan sebaliknya (memang sebenarnya jalan STAN tidak boleh digunakan sebagai jalan Ceger-Bintaro. Hanya saja, tulisan “Jalan STAN tidak dapat digunakan sebagai lintasan ke Bintaro” tampaknya tidak cukup ampuh membendung keinginan masyarakat akan kepraktisan. Ditambah para satpam yang dengan kebaikan hatinya akan mengizinkan kendaraan lewat hanya dengan sumbangan suka rela). Fitur ini kini banyak digunakan mahasiswa atau manusia lain nonmahasiswa untuk bersosialisasi. Lumayan ramai baik siang ataupun malam, kecuali pada musim ujian.

5. Gedung I dan J.

Mereka adalah gedung kembar baru yang terletak di sebelah depan kanan-kiri gedung P (silakan lihat gambar di header stan.ac.id). Meskipun kembar, mereka berdua “lahir” dengan jeda waktu beberapa bulan (sampai saat saya menulis wacana ini, gedung J belum digunakan (diserahterimakan) meskipun telah selesai). Desain kedua gedung ini bisa dibilang elegan dan minimalis, mengesankan kemoderenan. Konstruksinya didominasi kaca, yang tanpa tirai akan mengesankan bahwa Anda sedang kuliah di dalam akuarium tanpa air (berarti bukan akua(=air)rium dong? Bodoh banget seh!). Tiap kelas dilengkapi built-in air conditioner yang otomatis menyesuaikan temperatur, jadi tidak seperti di gedung-gedung lain yang berupa AC biasa (udah gitu pada rusak lagi :)). Meja-kursi pun berbeda dengan di gedung-gedung lain. Juga dilengkapi built-in LCD projector (emang itu LCD ya? Mana liquid crystal-nya sih?) dan fitur audio, jadi tidak perlu repot membawa LCD projector dari sekretariat (meskipun belum semua ruang dilengkapi fitur-fitur ini. Jangan lupa juga bahwa ada dosen-dosen kolot yang masih menggunakan OHP). Belajar di sana terasa nyaman (hal ini tidak selamanya baik karena kelas yang nyaman membuat dosen betah mengajar).

Hanya ada sedikit kekurangan, misalnya keberadaan toilet pria yang hanya ada di lantai tiga dan toilet wanita yang hanya ada di lantai dua. Kabarnya, toilet di lantai satu bisa digunakan oleh kedua gender (aneh kan?). Kekurangan lain, gosipnya masjid di lantai satu kiblatnya miring agak parah dari arah Baitulloh. Tempat wudhunya gosipnya juga bercampur antara pria dan wanita. (sejujurnya, saya belum pernah menggunakan masjid, tempat wudhu, serta toilet di lantai satu karena biasanya saya sholat berjamaah di an-Nashr)

6. Kolam(-kolam).

Kolam STAN yang paling legendaris tentunya adalah empang yang ada di dekat gedung E, meskipun kini sudah jarang terucap dari lisan-lisan mahasiswa. Kini, STAN telah membangun dua kolam baru (tidak termasuk sebuah kolam kecil di sebuah taman kecil di dekat gedung P yang merupakan sumbangan salah satu angkatan alumni STAN).

Kolam yang pertama, terletak di dalam gedung P, di antara ruangan yang dulu adalah ruang referensi (kini ruang referensi telah dipindahkan ke lantai dua gedung P) dan ruang peminjaman. Kolam ini dilengkapi air mancur dan ikan-ikan yang selalu tampak hampir mati (tapi tampaknya kini ikan-ikan itu sudah tidak ada). Efek suara yang ditimbulkan kolam ini begitu menenangkan. Membaca di dekat kolam itu bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan (apalagi jika sampai ketiduran :)).

Kolam kedua dan mungkin yang paling banyak disorot (juga paling banyak menjadi tempat para mahasiswa berfoto-foto ria yang mungkin akan mereka gunakan sebagai gambar profil di Fesbuk mereka) saat ini adalah sebuah kolam berbentuk lingkaran besar, mungkin diameternya mencapai belasan meter, yang terletak di depan gedung P. Pada bagian tengahnya (sebenarnya tidak tepat di tengah), terdapat empat huruf besar S, T, A, dan N yang dilapisi lapisan mengkilap berwarna perak. Huruf-huruf ini dapat dilihat dengan jelas dari arah jalan Bintaro, seakan-akan huruf-huruf ini adalah sebuah identitas yang ingin ditunjukkan bagi orang-orang yang lewat. Di sekitar huruf-huruf itu, terdapat beberapa air mancur yang mengeluarkan bunyi menggelegak. Pada malam hari, lampu-lampu di kolam itu dinyalakan. Ada lampu sorot ke arah keempat huruf itu. Juga ada lampu-lampu kecil di sepanjang tepi dasar kolam yang menyala kemudian mati dalam urutan yang konsisten, memberikan kesan hangat seperti bioluminesens (eng: bioluminescence) yang ditimbulkan oleh beberapa spesies cumi-cumi. Pada bagian air yang keluar dari tepi kolam juga dilengkapi lampu berwarna-warni. Tiap-tiap air yang keluar dilengkapi dengan lampu yang berbeda warna, menimbulkan efek yang cukup unik. Pada tepi bagian luar dasar kolam juga terdapat lampu-lampu sorot yang diarahkan ke lantai, menimbulkan kesan dramatis. Di sekitar kolam, terdapat taman yang juga dilengkapi lampu-lampu yang berpendar ringan, tampaknya memang lebih diniatkan sebagai bentuk estetika daripada fungsi penerangan. Secara keseluruhan, lanskap kolam dan taman memberikan kesan yang elegan dan hangat. Hanya tersisa sedikit pertanyaan, berapa banyak konsumsi listrik untuk area ini di tengah krisis energi saat ini? Berapa pula kira-kira biaya pemeliharaan kolam dan taman tersebut?

Selain fitur-fitur baru di atas, ada juga fitur-fitur yang mulai dilupakan. Misalnya saja empang di dekat gedung E yang dulu sering menjadi tempat penyiksaan mahasiswa pada tanggal kelahiran mereka. Ada juga fitur yang tampaknya hilang, misalnya hotspot di Plasma (masih ada nggak sih?). Ada juga fitur yang masih digunakan, tetapi nama populernya yang mulai dilupakan, misalnya STANtiago Berdebu, nama populer dari lapangan-lapangan yang ada di sepanjang jalur Ceger ke kampus. Kini sudah jarang yang menggunakan nama ini, mungkin karena kini lebih sering berlumpur alih-alih berdebu.

Ada juga fitur yang dilupakan dalam artian tidak diprioritaskan, misalnya area parkir untuk sepeda. Sebenarnya, peluasan area parkir juga termasuk dalam agenda pembangunan STAN, dan memang telah terwujud. Hanya saja, yang diperluas adalah area parkir untuk motor. Area parkir sepeda, sebaliknya digusur ke sebelah utara area parkir utama, tanpa peneduh yang layak. Lebih parah lagi, dengan adanya bendungan, mobil-mobil dari arah Ceger kini tidak dapat parkir di area parkir mobil. Akibatnya, mobil-mobil ini kini diparkir di tempat yang seharusnya merupakan area parkir sepeda. Sepeda-sepeda makin tergusur ke tempat yang semakin tidak layak. Di area parkir yang sekarang, sepeda-sepeda malang itu hampir tidak terlindungi sama sekali dari cuaca, kecuali oleh beberapa pohon yang tumbuh di dekat tempat parkiran tersebut. Mereka kepanasan saat cuaca panas dan basah kuyup saat hujan turun. Ternyata, tidak terkecuali di kampus yang identik dengan intelektualitas, diskriminasi tetap terjadi. Mungkin jika BEM STAN mau “mengambil” lahan ini, akan ada tambahan prestasi mereka yang bisa mereka banggakan.🙂

Fitur-fitur penting lain juga sebenarnya belum banyak dibenahi. Misalnya AC, meskipun tampaknya sudah banyak yang diperbaiki. Buku-buku yang dipinjamkan atau disediakan di ruang referensi tampaknya juga tidak mengalami peningkatan baik dari segi kuantitas (bahkan mungkin berkurang) maupun kualitas. Walau begitu, kini perpustakaan STAN sedang membangun jaringan perpustakaan online yang telah dimulai sejak awal kuliah semester tiga dan sampai sekarang belum selesai juga. Cita-cita yang mulia ini kini mengakibatkan buku-buku di ruang peminjaman tidak bisa dipinjam sampai waktu yang tidak ditentukan. Terakhir kali saya bertanya pada pustakawan yang ada di sana, jawabannya “Nggak tau, mas. Masih lama. Internetnya belum beres.” (Tulisan ini saya tulis sekitar seminggu yang lalu. Namun, mulai minggu ini, perpustakaan telah kembali melayani peminjaman, bahkan bisa dilihat katalognya di situs resmi STAN, meskipun belum semua buku dapat dipinjam. Buku-buku yang belum bisa dipinjam terutama karena belum ditempeli barcode. Sekarang memang meminjam di perpustakaan telah menggunakan barcode, baik barcode yang ada pada Kartu Tanda Mahasiswa maupun yang ada di buku itu sendiri. Alhasil, kini KTM lebih bisa didayagunakan. Sebaliknya, kartu perpustakaan yang dulu bisa dianggap sudah tidak berguna). Hal semacam ini tampaknya memang telah menjadi ironi yang biasa di negeri kita.

Yang jelas, kini STAN telah berbenah. Bu Menkeu pun telah meresmikan gedung-gedung STAN yang baru di tengah kesibukan beliau terkait kasus Bank Century. Semoga saja pembangunan STAN ini akan memberi manfaat yang lebih besar dari semua pengorbanan yang telah dikeluarkan.


Responses

  1. spellcard yang bagus😀

  2. cieeeeeee

  3. UNJ juga mbangun per.yang kemaren kebakaran sekarang di bangun.jadi sekarang unj punya gd yang kalo manusia lopat dari atasnnya bisa mati.

  4. […] baca juga: STAN reborn […]

  5. mas, saya izin copy + perbarui ya..
    bisa ditinjau di sini : finshaa.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: