Oleh: bloksaya | Januari 29, 2010

The exam effects

Alhamdulillah, Ujian Tengah Semester (selanjutnya disebut UTS) selesai juga. Ujian kali ini tidak jauh berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya (baca tulisan saya yang terdahulu di sini dan di sini).

Seperti biasa, ada beberapa perubahan yang saya rasakan di masa-masa ujian. Perubahan itu menyangkut diri saya sendiri maupun orang lain yang berhasil saya tangkap melalui panca indra saya. Perubahan-perubahan itu antara lain:

1. MBM bertambah ramai

Masjid Baitul Mal, atau lebih dikenal dengan MBM, adalah masjid utama bagi mahasiswa STAN, terutama mahasiswa di kawasan Ceger, atau mahasiswa di kawasan lain yang menjadi anggota organisasi MBM. MBM (dalam artian organisasi) bisa dibilang adalah rohisnya STAN yang tentunya bernapaskan IM. MBM memiliki perpanjangan tangan di setiap spesialisasi (misalnya, Ukhuwah Mahasiswa Muslim Pajak) dan setiap wilayah (misalnya, Forum Silaturrahim Muslim Ceger alias Fathir. Saya, entah bagaimana caranya, tergabung dalam organisasi itu. Ceritanya panjang, dan sekarang bukan saatnya untuk menceritakan hal tersebut). Namun, kali ini kita akan melihat MBM bukan dari segi organisasi, melainkan dari segi kemasjidannya, tempat saya sholat sehari-hari (sebenarnya, kos saya lebih dekat ke masjid asy-syuhada. Sekali lagi, baca tulisan saya mengenai masjid asy-Syuhada).

Pada hari-hari normal, MBM memang bisa dibilang cukup ramai. Hal ini juga didukung fakta bahwa banyak manusia Ceger yang memilih sholat di MBM alih-alih asy-Syuhada, meskipun agak jauh. MBM juga adalah tempat “pelarian” manusia-manusia Sarmili karena kabarnya masjid yang ada di sana juga keadaannya serupa dengan asy-Syuhada (saya jadi heran mengapa banyak orang hobi mengubur manusia di masjid). Namun, ketika ujian tiba, jumlah jamaah bisa menjadi beberapa kali lipat, bahkan untuk sholat Shubuh dan sholat-sholat sirr (kita semua tahu bahwa waktu sholat favorit adalah maghrib, sedangkan untuk sholat-sholat lain, Shubuh terutama, berlaku keadaan sebaliknya). Keadaan ini di satu sisi menunjukkan bahwa mahasiswa STAN masih bergantung kepada Alloh, Robb semesta alam. Setidaknya mereka tidak pergi ke dukun. Namun, tentu sangat disayangkan jika ketaatan semacam ini hanya berlangsung temporer selama dua pekan, mirip seperti suasana awal Romadhon.

2. An-Nashr bertambah sepi

Lain lagi keadaannya dengan an-Nashr (an-Nashr adalah nama sebuah masjid kecil (setidaknya kesalahkaprahan penamaan “musholla” tidak terjadi) yang berada di dekat STAN, dipisahkan dengan sebuah sungai(?) di depan STAN. Di sini secara rutin diadakan kajian-kajian Islam ilmiyyah. Namanya mengandung makna yang mendalam bagi saya karena masjid itu benar-benar terasa seperti sebuah pertolongan dari Alloh ketika dulu saya merasa begitu terasing di tempat ini, meskipun kalimat ini tidak menunjukkan bahwa sekarang saya sudah tidak merasa terasing sama sekali, akan tetapi perasaan itu kini telah agak berkurang). Jika biasanya masjid ini ramai (maksud saya pada jadwal-jadwal kajian. Di saat-saat lain, tentu keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan masjid pada umumnya), selama ujian jamaah yang hadir (yang saya maksud adalah mahasiswa STAN, bukan yang lain) mengalami penurunan. Hal ini tidak lain disebabkan tiap-tiap mahasiswa sedang sibuk belajar.

3. Semua sibuk belajar

Tidak jarang, di kosan saya tiba-tiba terbentuk sistem belajar bersama dadakan yang tentu tidak akan efektif karena terbatasnya waktu. Mereka akan belajar sampai larut malam, seolah-olah mereka lupa bahwa tidur juga adalah sesuatu yang penting. Hal ini memberi saya pelajaran bahwa sebaiknya kita memang mempersiapkan diri sejak jauh hari untuk menghadapi ujian.

4. Antrean nasi uduk bertambah panjang

Ada sebuah warung (sebut saja begitu) nasi uduk yang menjadi favorit saya, letaknya di seberang jalan Alfamidi. Hanya dengan Rp3000, pelanggan sudah bisa mendapat nasi uduk dengan kuantitas dan kualitas yang lumayan (perhatikan bahwa saya mendahulukan kata kuantitas dari kualitas), ditambah telur (ada beberapa varian telur yang bisa dipilih), tahu atau tempe (ada variannya juga), dan sebuah gorengan (sebut saja bakwan). Tentu tidak ketinggalan berbagai asesori nasi uduk seperti sambal, kerupuk, dan bawang goreng. Ketika musim ujian tiba, pelanggan nasi uduk tersebut bertambah mungkin sampai tiga kali lipat. Sebabnya antara lain, sebagian manusia yang biasanya memasak nasi sendiri tidak ingin pikirannya terbelah antara memasak nasi dan belajar. Yang lain tampaknya ingin mengantisipasi keramaian yang akan mereka hadapi jika mereka sarapan di jam-jam sarapan normal. Tentu akan konyol jika terlambat ujian hanya karena terlambat sarapan. Juga tidak ada yang ingin mengambil risiko untuk tidak sarapan. Sebuah pertempuran memerlukan energi, dan kita tidak bisa menganggap bahwa ujian bukanlah sebuah pertempuran.

5. Aroma stres di mana-mana

Tentu stres tidak bisa dicium, hanya saja saya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa kental rasanya stres yang dialami para mahasiswa. Kecemasan, kekecewaan, penyesalan, bercampur dengan sedikt kebahagiaan di saat tertentu (dan kebahagiaan yang paling terasa adalah ketika para mahasiswa telah menyelesaikan ujian di hari terakhir :)).

6. Potokopian kebanjiran order

Hal yang biasa terjadi, para mahasiswa memburu tempat potokopi di musim ujian. Saya pun tidak ikut ketinggalan, meskipun tidak semua potokopian itu saya pelajari🙂.

Itulah sebagian kecil efek-efek ujian. Semoga tulisan singkat tidak berguna ini bisa berguna bagi pembaca (?).


Responses

  1. Suka ini…!!

    Coba UAS terus ya…..

    ^_^

  2. itu uts, belum uas🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: