Oleh: bloksaya | Maret 27, 2010

KLP: Ketika Listrik (terlalu sering) Padam

Mungkin kata KLP sedikit asing di telinga sebagian pembaca. KLP merupakan singkatan dari Koperasi Listrik Pedesaan. KLP merupakan alternatif bagi daerah yang belum terjamah oleh PLN. Meskipun tempat kelahiran saya telah menyandang predikat kota madya, kenyataannya masih ada sebagian wilayah (termasuk rumah saya. hiks) yang masih menggunakan jasa KLP.

Sejak awal ditemukan, listrik telah memukau umat manusia. Apalagi setelah bola lampu yang ditemukan oleh Thomas Alfa Edison yang pada zamannya diklaim lebih efisien (penemu listrik bukan Edison kan? Soalnya kalo g salah sebelum Edison nemu bola lampu, sektor industri udah make lampu listrik cuma g sebagus lampunya Edison. Jadi penemu listrik siapa ya? Mantan Presiden Amerika yang main layangan tu? Entahlah. Sebenarnya, saya sendiri kurang paham mengenai arti menemukan (invent). Apakah listrik termasuk sesuatu yang ditemukan?). Bentuknya yang relatif kecil serta bebas asap menjadi daya tarik tersendiri. Kemudian, dimulailah era listrik (ini adalah istilah yang saya ada-adakan saja)

Konon, KLP pertama kali muncul di kota saya sekitar tahun 1980. Saat itu, Kota Metro (kota kelahiran saya,red) yang masih berupa kecamatan belum dijamah oleh PLN. Cukup primitif memang. Akhirnya, demi memenuhi hasrat masyarakat akan listrik, dibentuklah KLP Jurai Siwo (kalo g salah namanya gitu). Seperti namanya, KLP merupakan sebuah koperasi. Seperti yang pernah kita pelajari di SD, sebuah koperasi berasaskan kekeluargaan dengan mengutamakan kepentingan anggota (pokoknya intinya gitu deh. Tanya aja anak-anak di “Are You Smarter Than a 5th Grader”)

Namun, seiring berkembangnya zaman, ternyata asas koperasi mulai ditinggalkan oleh KLP. Lama-kelamaan, tampak pengurus koperasi yang seharusnya menjadi pengurus justru menikmati hasil dari koperasi. Para pengurus tersebut bahkan menampakkan harta mereka dalam bentuk rumah bagus dan sebagainya. Tentu hal ini mulai mengundang tanda tanya dan rasa cemburu bagi para anggota koperasi.

Ketika akhirnya PLN menancapkan taringnya (wuih, keren bahasa saya) di KOta Metro, sebagian besar memilih pindah ke PLN. Sebenarnya ini lebih mirip sebuah mekanisme yang telah dirancang daripada sebuah pilihan. Memang awalnya KLP ditujukan sebagai penyedia listrik sementara sebelum PLN datang. Sebagian lagi (entah mengapa) memilih tetap berlangganan KLP (misalnya rumah nenek saya), sebagian lagi memang belum bisa pindah ke PLN (misalnya rumah orang tua saya). Tentu mekanisme peralihan dari KLP ke PLN dilakukan secara gradual, tidak sekaligus.

Setelah bertahun-tahun, rumah saya belum juga pindah ke PLN. Suatu ketika, terdengar kabar mengenai hampir bangkrutnya KLP (mungkin karena buruknya manajemen). Akan tetapi, KLP masih tetap bisa beroperasi dengan cara membeli listrik kepada PLN untuk disalurkan ke pelanggan KLP (aneh kan?). Alhasil, tarif dasar, beban, dan sebagainya yang dipungut oleh KLP lebih besar jika dibandingkan dengan yang dipungut oleh PLN. Selain itu, mungkin untuk mengurangi biaya operasional, KLP sangat sering melakukan pemadaman listrik bagi pelanggannya. Tentu saja hal-hal tersebut membuat pelanggan merasa gerah (mati lampu, kipas angin g idup sich). Mulai banyak pelanggan yang meminta dipindahkan ke PLN. Namun, KLP tampaknya terkesan menghalang-halangi keinginan pelanggan.

Puncaknya, terjadi sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya masih di musim-musim Ujian Nasional. Para pelanggan kompak memberontak kepada KLP. Mereka (atau kami ya?) sepakat untuk tidak membayar listrik dengan taruhan yang cukup mengerikan. Mereka rela listrik mereka diputus. Mereka berasumsi dengan begitu, mereka akan bisa lebih mudah bermigrasi ke PLN. Paling lama mungkin hanya butuh waktu enam bulan. PAdahal, jika Anda membaca awal paragraf ini dengan baik, Anda akan tahu bahwa saya sedang berada di masa-masa Ujian NAsional. Untungnya, listrik tidak jadi diputus.

Setelah berbulan-bulan terjadi konflik antara pelanggan dan pihak KLP, Walikota Metro mulai melirik masalah ini. Dalam berbagai kesempatan, beliau berjanji akan berusaha membantu migrasi warga ke PLN(perhatikan kalimat ini baik-baik). Berkali-kali warga melakukan berbagai rapat. Ditambah dukungan dari walikota, sebagian begitu yakin rencana mereka akan berhasil (tentu saja saya termasuk manusia yang tidak yakin bahwa rencana kurang matang mereka akan berhasil selancar bayangan mereka).

Kemudian, ketika saya pulang untuk berlibur (saya lupa liburan kapan, semester satu atau dua), saya dikejutkan dengan keadaan mengerikan (lebay) di rumah. Yang saya dapati hanyalah kegelapan. Ternyata, listrik warga telah diputus secara resmi oleh KLP sampai warga bersedia membayar tunggakan mereka. Kali ini, bukan hanya Walikota yang angkat bicara. PLN sendiri pun mulai memberi jaminan (tidak tepat juga sebenarnya jika hal itu disebut sebuah jaminan. Mungkin lebih ke arah dorongan semangat) bahwa warga akan dimigrasikan. (Sekali lagi, saya merasa ada yang tidak logis dengan pernyataan PLN ini. Bagaimanapun, akan lebih menguntungkan bagi PLN jika tetap membiarkan warga menggunakan jasa KLP). Sekali lagi, warga makin optimistis (ini kata sifat bukan sich? Bukannya kalo optimis tu kata benda?). Dengan berbagai provokasi yang menggugah semangat, mereka makin kukuh tidak mau membayar tagihan listrik KLP. Mereka tidak sadar bahwa tagihan listrik (jangan lupakan denda keterlambatan pembayaran) mereka semakin membengkak. Yang jelas, hingga saya kembali lagi untuk kuliah, listrik masih padam.

Sekarang, tentu listrik telah menyala. Warga pun telah membayar tunggakan mereka. Sampai kini pun mereka (kami?) masih berlangganan KLP. Pemadaman listrik pun masih sering terjadi. Sebenarnya warga masih ingin bermigrasi ke PLN, tetapi sudah tidak “segila” dulu. Tadinya saya berpikir bahwa masalah ini akan kembali mencuat, mengingat sebentar lagi Pilkada. Saya pikir, isu ini akan menjadi isu bagus dalam rangka kampanye. Ternyata, hingga tulisan ini saya buat, belum ada calon yang mengangkat isu ini. Mungkin saya salah. Atau belum saja?🙂


Responses

  1. pertamax

  2. hore, abrar pertamax

  3. PIlih PLN aja Fer….
    mati lampunya 2x seminggu… heheh
    *gk juga

    pilih yg lebih baik, msk mw di jolimi terus…
    Mumpung msh mw pwmilihan walikota… manfaatin buat masang PLN gratis…😀

  4. Bentuknya yang relatif kecil serta bebas asap

    Ubatnyamuk?

  5. rokok mungkin🙂

  6. susah mw pindah🙂

  7. isu klp dipake oleh calon walikota pd saat sblm pilkada, hampir tiap hari ada beritanya, skrg sesudah terpilih lupa… Ilang ingatan tampaknya.. Halah, nasib pake KLP…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: