Oleh: bloksaya | April 17, 2010

Syubhat tentang Bid’ah #1

Notes:

Bismillahirrohmanirrohim. Tulisan ini tidak dibuat kecuali dengan niat mengharapkan kebaikan dari Alloh. Apabila terdapat kata-kata yang menyinggung pembaca, penulis meminta maaf. Sebaiknya, hilangkan segala asumsi sebelum Anda memulai membaca karena sebuah gelas tidak akan bisa diisi air bila telah terisi penuh. Gunakanlah hati Anda, hilangkan segala bentuk emosi dan buruk sangka. Mudah-mudahan Alloh memberikan hidayah kepada saya dan pembaca yang budiman.

Sekilas tentang bid’ah

Bid’ah. Kata ini mungkin belum terlalu lama dikenal secara umum di negeri kita. Biasanya, kata ini memiliki makna yang sensitif bagi sebagian manusia. Alih-alih berusaha memahaminya dengan pemahaman yang benar, manusia umumnya lebih memilih menciptakan berbagai kabut yang menyelimuti kata ini sehingga timbullah syubhat (kesamaran) dalam masalah ini. Padahal, seandainya manusia memahami kata yang hakikatnya adalah lawan dari sunnah ini, insyaalloh agama ini akan lebih mudah untuk kita jalani.

Banyak dalil-dalil yang mungkin sering kita dengar yang menyebutkan ketidakbolehan seorang muslim (kita sedang membicarakan orang Islam. Orang di luar Islam tentu tidak perlu dibahas lagi) melakukan bid’ah. Secara sederhana, bid’ah bermakna perkara baru yang dianggap bagian dari agama, tetapi sebenarnya dia bukan bagian dari agama. Dengan kata lain, dia adalah perkara yang diada-adakan dalam agama.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu. [Al-Maaidah: 3]

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم

“Artinya : Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44). Hasan Shahih, dari Shahabat ‘Irbadh bin Saariyah رضي الله عنه]

Demikian juga sabda beliau صلی الله عليه وسلم  “Artinya :Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”[HR. Al-Bukhori (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah رضي الله عنها.]

Dari dalil-dalil ini, kita juga dapat menyimpulkan bahwa bid’ah yang terlarang adalah yang berkenaan dengan masalah agama atau yang sifatnya ibadah, lebih tepatnya ibadah mahdhoh.

Bid’ah ini memiliki tingkatan-tingkatan. Ada yang derajatnya dapat membuat seseorang menjadi kufur, seperti bid’ahnya sebagian orang-orang Syi’ah ar-Rofidhoh, Jahmiyyah, dan selain mereka yang telah banyak dijelaskan oleh para ulama. Ada juga bid’ah yang menjadi sarana kepada syirik (dan sesungguhnya hukum wasilah (sarana) itu sama dengan hukum tujuannya. Jadi, sarana kepada syirik adalah haram sebagaimana syirik itu juga haram, meskipun dalam hal beratnya dosa mungkin saja berbeda), misalnya mendirikan bangunan di atas kubur. Ada juga bid’ah yang bernilai maksiyat, seperi bid’ah yang umum kita jumpai di sekitar kita, misalnya seseorang yang berpuasa tanpa berbuka. Tidak jarang, bid’ah pada tingkatan yang satu bisa berefek pada bid’ah pada tingkatan yang lain.

Dari sini, kita bisa mengetahui salah satu bahaya bid’ah, yaitu mungkin mengeluarkan seseorang dari Islam tanpa disadari. Misalnya ucapan sebagian manusia yang berkeyakinan bahwa Alloh tidak mengetahui apakah seorang bayi merah itu pada akhirnya akan masuk surga atau neraka. Menurut mereka, seandainya Alloh telah tahu dari awal, berarti tidak ada gunanya beramal. Secara langsung atau tidak langsung, mereka telah menuduh Alloh berbuat zholim seandainya Dia telah menentukan seorang bayi merah kelak akan masuk surga atau neraka. Padahal, Alloh Maha Memiliki Hikmah atas semua perbuatan-Nya.

Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan syubhat-syubhat yang menyelimuti kata bid’ah, terutama yang saya alami dan lihat sendiri di masyarakat di lingkungan saya tumbuh. Sebenarnya, masih banyak lagi syubhat yang lain di luar yang saya tulis. Semoga Alloh memberi kemudahan. Yang benar datangnya dari Alloh, yang salah adalah dari saya dan dari syaithon, dan kepada Alloh saya memohon ampun.

(bagi pembaca yang ingin memahami masalah bid’ah dengan pemahaman yang benar, penulis merekomendasikan kitab ‘Ilmu Ushulil Bid’ah oleh Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi (salah satu murid terbaik Syaikh al-Albani). Kitab ini memiliki pembahasan yang (relatif) sederhana dan (relatif) mudah dipahami karena berupa ushul (pokok-pokok), dan tentunya berdasarkan al-Qur’an dan sunnah shohihah sehingga lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.)

bersambung ke bagian dua


Responses

  1. Nabi Tidak Melakukan Semua Perkara Mubah

    Apabila ada orang yang mengharamkan sesuatu dengan berdalih bahwa hal itu tidak pemah dilakukan Rasulullah SAW, maka sebenamya dia mendakwa sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya. Oleh karena itu, dakwaannya tidak dapat diterima.

    Demikian Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari dalam “Itqanush Shunnah fi Tahqiqi Ma’nal-Bid’ah“. Lebih lanjut beliau mengatakan: ”Sangat bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melakukan semua perbuatan mubah, dan bahkan perbuatan sunnah, karena kesibukannya dalam mengurus tugas-tugas besar yang telah memakan sebagian besar waktunya.

    Tugas berat Nabi antara lain menyampaikan dakwah, melawan dan mendebat kaum musyrikin serta para ahli kitab, berjihad untuk menjaga cikal bakal Islam, mengadakan berbagai perdamaian, menjaga keamanan negeri, menegakkan hukum Allah, membebaskan para tawanan perang dari kaum muslimin, mengirimkan delegasi untuk menarik zakat dan mengajarkan ajaran Islam ke berbagai daerah dan lain sebagainya yang dibutuhkan saat itu utnuk mendirikan sebuah negara Islam.

    Oleh karena itu, Rasulullah hanya menerangkan hal-hal pokok saja dan sengaja meninggalkan sebagian perkara sunah lantaran takut memberatkan dan menyulitkan umatnya (ketika ingin mengikuti semua yang pernah dilakukan Rasulullah) jika beliau kerjakan.

    Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganggap cukup dengan menyampaikan nash-nash Al-Qur’an yang bersifat umum dan mencakup semua jenis perbuatan yang ada di dalamnya sejak Islam lahir hingga hari kiamat. Misalnya ayat-ayat berikut:

    وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ

    “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)

    مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

    “Siapa yang melakukan amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat dari amal itu.” (QS. Al-An’am [6]: 160)

    وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj [22]: 77)

    وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً

    “Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikan itu.” (QS. Asy-Syura [42]: 23)

    فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ

    “Siapa yang mengerjakan kebaikan walau seberat biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)

    Banyak juga hadis-hadis senada. Maka siapa yang menganggap perbuatan baik sebagai perbuatan bid’ah tercela, sebenamya dia telah keliru dan secara tidak langsung bersikap sok berani di hadapan Allah dan Rasulnya dengan mencela apa yangtelah dipuji.

    Dr. Oemar Abdallah Kemel
    Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
    Dari karyanya “Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah” yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan tajuk “Kenapa Takut Bid’ah?”

  2. saya gk takut berbwt bidah, . . .
    krn bidah bkn utk ditakuti tp utk dijauhi dan tdak dkerjakan . . .

    saya stju dngan perkara bidah itu haram. . . .

    kebaikan itu kan dr Assunah dan Quran. . . .

    bkan dari kebaikan2 mnrut versi qt sendri. . ? qt ini mahluk bernafsu, . .

    wallahu’alam. . .

  3. Saya bkn yg punya blog ini

  4. anda benar, nabi tidak melakukan semua yang mubah.
    yang perlu pembaca garis bawahi, bid’ah yang Rosululloh maksud adalah dalam hal agama, bukan duniawi.
    silakan baca lanjutan-lanjutan tulisan ini.

  5. Perkara bid’ah memang tidak akan ada akhirnya untuk dibicarakan…

    Hanya yang ingin saya sampaikan, bahwa Islam itu adalah agama ilmu…
    Sangat dituntut seseorang untuk menjalankan amalan Islam dengan ilmu…

    Nah, kalau kita pelajari… banyak sekali bid’ah-bid’ah yang saat ini dijalankan oleh mereka-2 tanpa tahu asal-usul, makna, tujuan, dasar dan lain-lainnya… padahal nyata-nyata itu adalah perbuatan yang sering dilakukan oleh kauf kafir… seperti tahlilan orang mati (berasal dari tradisi Hindu), dan lain-lain dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan di sisni satu persatu.

    Makanya kerjarlah ilmu untuk menjalankan agamamu, dan kejarlah agamamu untuk mendampingi ilmu.

    Bid’ah tetaplah bid’ah… tidak ada yang khasanah ataupun khasanah…

    dan itu ada ilmunya lho…

  6. Bid’ah tetaplah bid’ah… tidak ada yang khasanah ataupun dholalah…

    dan itu ada ilmunya lho…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: