Oleh: bloksaya | Desember 18, 2010

STAN new add-on — Student Center

Tampaknya, STAN masih belum puas dengan “operasi plastik” yang telah dijalaninya. Meskipun sekarang “wajah” STAN telah selesai dipermak (bahkan sudah rusak lagi) dan telah menjadi lebih enak dipandang (dari luar), masih ada lagi fitur baru yang ditanamkan di STAN. Student Center, begitulah yang tertulis dalam sebuah papan permintaan doa restu yang ada di lapangan di sebelah timur masjid baitul mal STAN.

Student Center adalah tempat yang nantinya akan digunakan sebagai gedung serba guna (terus gedung G diapain ya?), termasuk untuk keperluan wisuda, serta tempat mangkal elemen-elemen kampus. Melihat pembangunan sejauh ini, tampaknya bangunan ini akan berukuran cukup besar, dengan desain yang cukup unik (tetapi saya tidak setuju dengan sebuah kalimat di sebuah tabloid, entah Civitas atau Warta Kampus, saya lupa, yang menyebutkan bahwa diharapkan gedung ini nantinya akan menjadi ikon STAN karena keunikan arsitekturnya. Plis deh, desain arsitektur kayak gitu tu biasa aja untuk tahun 2010, apalagi bangunan itu paling cepat akan selesai tahun 2011. Dengan cara berpikir yang serba ketinggalan seperti ini, wajarlah jika hingga kini kampus kami tercinta tetap terbelakang). Meskipun namanya Student Center, menurut saya, pada akhirnya gedung ini hanya akan digunakan untuk event-event tertentu, padahal mulanya saya bayangkan gedung ini akan benar-benar menjadi pusat kegiatan mahasiswa, misalnya ada kantin di dalamnya, tempat mahasiswa mengerjakan tugas, berolahraga, dan lain-lain layaknya sebuah center. Ya sudahlah, mungkin pemahaman linguistik saya saja yang nyeleneh.

Meskipun papan berisi permintaan doa restu akan dibangunnya student center itu sudah ada sejak bulan Romadhon lalu (sebelum liburan), hingga kini, masih belum terlihat bentuk benda itu seperti yang ada di gambar desainnya. Yang lucu, dalam Civitas atau WArta KAmpus yang memberitakan masalah student center tersebut, ditulis bahwa pembangunan sudah berjalan 18%. Padahal, ketika tabloid itu saya baca beberapa pekan lalu, yang ada baru kolom-kolom belum sempurna yang bahkan belum berdiri tegak. Bayangkan saja, jika keadaan yang seperti itu dikatakan 18%, lalu seperti apa 100%-nya? JAdi, sebenarnya sangat wajar jika gedung-gedung baru yang dibangun di STAN umumnya sudah mengalami degradasi di sana-sini.

Pembangunan tersebut, meskipun diniatkan memperbaiki penampilan (sepertinya bukan memperbaiki mutu, xixixi) STAN, tetap saja bukan tanpa imbas yang merugikan. Sekarang, sudah tidak ada lagi Stantiago berdebu (atau berlumpur), juga La Paz, prestasi BEM yang paling membanggakan itu. Bendungan yang biasa menjadi tempat berkumpul para mahasiswa pun terpaksa dijebol agar kendaraan-kendaraan proyek bebas berlalu lalang. Yang paling menyebalkan, proyek pembangunan ini menyebabkan jalan sepanjang gerbang Ceger sampai STAN ditutupi tanah berlumpur dari ban-ban kendaraan-kendaraan proyek tersebut, yang jika cuaca panas dan tidak ada hujan, akan berubah menjadi kumpulan kabut debu yang menyiksa mata, paru-paru, serta tubuh secara umum (jadi pengen mandi berkali-kali).

Pada akhirnya, berbagai pembangunan tampaknya memang tidak dapat kita hindari seiring perkembangan waktu. MAkin lama, makin sedikit kita lihat warna hijau pepohonan, berganti dengan bangunan-bangunan semen yang meembuat hari-hari kita semakin gerah. Meskipun STAN sendiri (kadang) memiliki program penanaman pohon, bisa diperkirakan bahwa pohon-pohon tersebut pada akhirnya akan ditebang juga jika dibutuhkan pembangunan lebih lanjut. Ya sudahlah.

baca juga: STAN reborn


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: